Serat kapas pendek atau cotton linters kini menjelma menjadi komponen paling dicari dalam rantai pasok pertahanan global seiring lonjakan produksi amunisi militer. Berdasarkan analisis Kabayan News, tanaman yang identik dengan industri tekstil tersebut kini memegang peran strategis sebagai bahan baku pembuatan nitrocellulose untuk amunisi artileri.
Serat halus yang tertinggal pada biji kapas setelah proses pemisahan tekstil memiliki kandungan selulosa sangat tinggi. Melalui proses nitrasi industri khusus, bahan ini diubah menjadi nitrocellulose murni yang menjadi penggerak utama dalam peluru artileri, amunisi kaliber kecil, hingga motor roket.
Permintaan terhadap bahan baku ini melonjak drastis setelah konflik di Ukraina memicu konsumsi amunisi dalam skala besar di seluruh dunia. Sebagaimana dilaporkan oleh berbagai media internasional, negara-negara barat termasuk anggota NATO mengalami kendala serius dalam mengamankan pasokan cotton linters.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKetergantungan industri pertahanan Eropa terhadap pasokan dari luar negeri menjadi celah kerentanan yang cukup besar. Menurut laporan industri, China memegang kendali atas sebagian besar pasokan linter Eropa, sehingga memicu kekhawatiran geopolitik tersendiri di tengah upaya ekspansi kapasitas pabrik senjata.
Sejumlah perusahaan pertahanan besar seperti Rheinmetall di Jerman dan Eurenco di Prancis terus berupaya memperluas fasilitas produksi serta membangun cadangan strategis jangka panjang. Selain itu, eksplorasi alternatif bahan baku berbasis selulosa kayu juga mulai digalakkan demi mengurangi ketergantungan pada serat kapas.