Survei terbaru dari lembaga riset bisnis dan teknologi Gartner menemukan lebih dari setengah pimpinan rantai pasok global masih merasa bingung mengenai tingkat pengembalian investasi atau return on investment dari penggunaan kecerdasan buatan.
Berdasarkan data survei melibatkan ratusan profesional rantai pasok dari perusahaan berpendapatan minimal USD 250 juta, terungkap sekitar 67 persen alokasi investasi digital organisasi justru diarahkan pada teknologi kecerdasan buatan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePengamatan Kabayan News menunjukkan adopsi teknologi cerdas ini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan organisasi dalam merancang strategi manajemen perubahan yang efektif untuk mendukung operasional harian.
"Organisasi semakin mahir mengeksekusi perubahan untuk inisiatif individual," ujar analis senior di praktik rantai pasok Gartner, Lorraine Gavin, dalam laporan tersebut.
Lorraine menambahkan tantangan terbesar saat ini terletak pada ketepatan mengalokasikan sumber daya manajemen perubahan agar selaras dengan target bisnis paling krusial.
Sebagaimana dilaporkan dalam temuan tersebut, para pemimpin rantai pasok disarankan menerapkan strategi manajemen perubahan yang tepat guna menghubungkan eksekusi teknologi langsung dengan prioritas perusahaan.
Sementara itu, riset terpisah dari Gartner memproyeksikan belanja infrastruktur layanan mandiri yang dioptimalkan untuk kecerdasan buatan global bakal melonjak hampir dua kali lipat sepanjang tahun 2026.
"Pertumbuhan ini didorong permintaan berkelanjutan terhadap infrastruktur pelatihan model bahasa besar dan operasionalisasi cepat di seluruh alur kerja perusahaan," ungkap analis riset senior Gartner, Hardeep Singh.