Penerapan teknologi kecerdasan buatan atau AI di perusahaan sering kali gagal memberikan dampak bisnis yang terukur akibat pengabaian masalah mendasar pada infrastruktur lama. CEO kerap berfokus pada kecanggihan teknologi tanpa memperbaiki sistem warisan, data yang terkotak-kotak, serta alur kerja yang sudah rusak sejak awal.
Perusahaan keuangan berusia 108 tahun, TIAA, membuktikan bahwa modernisasi infrastruktur harus mendahului adopsi AI secara masif. Berdasarkan kemitraan modernisasi yang berjalan selama hampir dua tahun, TIAA membersihkan data, memensiunkan sistem usang, dan mendesain ulang alur kerja sebelum memperluas skala AI.
Hasil dari perombakan fondasi tersebut sangat signifikan bagi efisiensi operasional perusahaan. Sponsor program kini dapat mengubah opsi investasi pensiun karyawan dalam hitungan hari, sementara keterlibatan digital di antara jutaan peserta TIAA melonjak hingga 13 persen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTransformasi AI pada dasarnya bukan sekadar proyek teknologi, melainkan perubahan model operasional dan manajemen perubahan bisnis. Perusahaan yang memperlakukan AI sebagai tambahan teknologi instan akan terjebak dalam uji coba berkepanjangan tanpa hasil nyata di pasar.
Strategi Perusahaan Mengadopsi AI Tanpa Gagal
Kesiapan data menjadi prasyarat utama karena hanya 5 persen bisnis di dunia yang menyatakan datanya sudah siap untuk AI. Gartner memprediksi sebanyak 60 persen proyek AI akan ditinggalkan sepanjang 2026 akibat ketiadaan data berkualitas yang terstruktur dengan baik.
Perusahaan juga wajib mendesain ulang alur kerja secara menyeluruh sebelum menyerahkan proses operasional kepada sistem otomatisasi. Menerapkan AI pada proses yang keliru hanya akan mempercepat kegagalan operasional alih-alih meningkatkan produktivitas tenaga kerja.
Penerapan teknologi harus tetap menempatkan manusia pada interaksi bernilai tinggi dan berisiko besar seperti layanan tabungan hari tua. TIAA sendiri telah mengadopsi platform internal GAIT dengan tingkat penggunaan harian mencapai 85 persen di kalangan staf internal perusahaan.
Ketahanan, tata kelola, dan keamanan siber harus dibangun secara agnostik agar perusahaan tidak bergantung pada satu vendor teknologi saja. Perusahaan yang mendisiplinkan diri merombak fondasi digital lebih awal akan melaju lebih cepat dibanding kompetitor dalam lima tahun ke depan.