Teknologi pengawasan buatan perusahaan AS bernama Flock mendapat sorotan tajam setelah terbukti disalahgunakan oleh aparat kepolisian untuk melacak mantan pasangan romantis hingga menguntit warga.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, CEO sekaligus pendiri Flock, Garrett Langley, secara terbuka mengakui bahwa perusahaannya terlambat menerapkan pengamanan ketat guna mencegah pelanggaran tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Ya... ya," ujar Langley saat ditanya perihal keterlambatan perusahaan melindungi puluhan ribu kamera, pembaca pelat nomor, serta drone dari aksi penyalahgunaan wewenang.
Sebagai respons atas gelombang kritik publik dan pemutusan kontrak dari puluhan kota, Flock kini memangkas masa penyimpanan data dari 30 hari menjadi hanya tujuh hari serta otomatis menandai pencarian yang tidak normal.
Dari analisis Kabayan News, Langley sempat berargumen bahwa dirinya ragu apakah seorang CEO perusahaan swasta berhak menentukan kebijakan masa retensi data, sebelum akhirnya menyadari urgensi tanggung jawab etis tersebut.
Meski menuai kecaman luas terkait privasi, pihak Flock mengeklaim layanan mereka tetap krusial dalam memerangi kejahatan, seraya menegaskan komitmen untuk menindak tegas oknum aparat yang melanggar aturan.