Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengindikasikan bahwa Washington tidak akan memberikan bantuan militer kepada Inggris apabila Argentina kembali melancarkan invasi ke Kepulauan Falkland. Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Argentina Javier Milei menegaskan kembali klaim teritorial atas kepulauan di Atlantik Selatan tersebut.
Dalam wawancara bersama GB News yang dilansir pada Kamis (4/9), Trump menyoroti keengganan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer untuk mengerahkan kapal perang guna membantu mengamankan Selat Hormuz di Iran. Sikap London tersebut memicu kekecewaan mendalam dari pihak Gedung Putih.
"Negara Anda tidak ada di sana untuk membantu saya. Kami tidak butuh bantuan, tetapi saya meminta NATO dan pemimpin Anda, mengapa Anda tidak mengirim beberapa kapal? Dan dia bilang kami tidak punya, dan itu sangat menyedihkan," ujar Trump sebagaimana dikutip dari wawancara tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKonflik historis Kepulauan Falkland pernah pecah pada tahun 1982 ketika Argentina menginvasi wilayah tersebut sebelum akhirnya dipukul mundur oleh pasukan di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Margaret Thatcher. Saat itu, London menerima dukungan intelijen dan militer yang signifikan dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, Presiden Argentina Javier Milei menegaskan bahwa negaranya akan terus memperjuangkan kepemilikan Kepulauan Falkland melalui jalur diplomatik maupun ekonomi. Milei bahkan berencana menjatuhkan sanksi kepada perusahaan minyak yang beroperasi di wilayah sengketa tersebut, termasuk proyek di ladang minyak Sea Lion yang dijadwalkan berproduksi pada tahun 2028.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, ketegangan diplomatik ini berpotensi merombak peta aliansi geopolitik tradisional antara Amerika Serikat dan Inggris di bawah pemerintahan Trump. Sikap transaksional Washington terhadap sekutunya kini menjadi faktor penentu dalam konflik kedaulatan internasional.