Presiden Amerika Serikat Donald Trump mempertimbangkan perpanjangan suspensi Jones Act di tengah lonjakan harga bensin yang melampaui USD 4 per galon dan berpotensi membebani kubu Republik menjelang pemilu paruh waktu. Kebijakan tersebut berencana membuka kembali pengiriman minyak domestik kepada kapal berbendera asing guna memperluas pengecualian darurat yang sebelumnya diterapkan setelah konflik Iran.
Berdasarkan analisis Kabayan News, langkah pelonggaran regulasi maritim tersebut dinilai tidak akan membawa pengaruh besar terhadap penurunan harga bahan bakar minyak di pasaran. Biaya pengiriman tercatat hanya mencakup sebagian kecil dari total pengeluaran konsumen di stasiun pengisian bahan bakar umum, sehingga memberikan ruang gerak terbatas bagi pemerintah untuk menekan harga melalui jalur logistik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, tekanan terhadap raksasa energi seperti ExxonMobil dan Chevron semakin meningkat akibat lonjakan keuntungan kuartal kedua di tengah keterbatasan pasokan global. Donald Trump bahkan telah mengarahkan Departemen Kehakiman untuk menginvestigasi dugaan permainan harga oleh perusahaan minyak besar yang tetap mempertahankan tarif tinggi kendati harga minyak mentah dunia sempat mengalami penurunan.
Sementara itu, rencana perpanjangan kebijakan ini menuai penolakan keras dari kalangan internal Partai Republik karena dinilai mengancam industri perkapalan domestik serta lapangan kerja pelaut lokal. Sebagaimana dilaporkan oleh kelompok industri maritim, mayoritas pelayaran darurat selama masa pengecualian sebelumnya justru didominasi oleh operator asing sehingga memicu desakan agar aturan proteksionis tersebut segera dikembalikan.
Sejumlah pakar manajemen menegaskan bahwa dampak pelonggaran Jones Act terhadap penurunan harga energi tergolong sangat minim dan kerap tertutup oleh lonjakan harga minyak mentah global. Tekanan politik terhadap pemerintahan Donald Trump dipastikan bakal semakin menguat seiring tingginya perhatian pemilih terhadap fluktuasi harga energi menjelang agenda pemilu mendatang.