Kabayan News Kabayan News
/home / internasional / Kisah Inspiratif Elizabeth Smart,...
INTERNASIONAL

Kisah Inspiratif Elizabeth Smart, Bangkit dari Trauma Gelap Menjadi Aktivis

By Dewi Lestari • 2 min read • 3 November 1987
Elizabeth Smart tampil dalam acara publik sebagai aktivis keselamatan anak

Elizabeth Smart tampil dalam acara publik sebagai aktivis keselamatan anak

Profil Elizabeth Smart mencuri perhatian publik global setelah dirinya berhasil bangkit dari pengalaman traumatik masa lalu menjadi seorang aktivis terkemuka untuk korban kekerasan seksual dan anak hilang.

Lahir di Salt Lake City pada 3 November 1987, Elizabeth Smart menjalani masa kecil normal sebelum peristiwa kelam mengubah jalannya hidup pada tahun 2002 silam di kediamannya.

Insiden penculikan terjadi pada 5 Juni 2002 ketika dirinya yang berusia 14 tahun diculik di bawah ancaman pisau oleh Brian David Mitchell dan Wanda Barzee dari kamar tidurnya sendiri.

Selama sembilan bulan penahanan, ia menghadapi siksaan mental dan fisik berat sebelum akhirnya kepolisian berhasil menyelamatkannya di jalanan publik Sandy, Utah, pada Maret 2003.

Menurut laporan kepolisian, penemuan korban bermula dari kejelian warga mengenali para pelaku melalui program televisi populer setelah buron dalam waktu cukup lama.

Pengadilan federal kemudian menjatuhkan hukuman berat kepada para pelaku, di mana Brian David Mitchell divonis dua kali penjara seumur hidup atas kejahatan keji yang telah dilakukannya.

Dari pengalaman traumatis tersebut, ia memilih untuk tidak tenggelam dalam kesedihan dan mendirikan Elizabeth Smart Foundation guna membantu korban lain memulihkan harga diri serta mental.

"Saya merasa harga diri hancur lebur seperti permen karet bekas," ujarnya mengisahkan beban psikologis masa lalu dalam sebuah konferensi anti human trafficking.

Topics
elizabeth smart aktivis penculikan biografi kekerasan seksual amerika serikat salt lake city
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.