Upaya melindungi hutan Papua dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan pemerintah ataupun pendekatan konservasi. Di tengah ancaman perubahan iklim dan tekanan terhadap bentang hutan tropis ini, diperlukan usaha lebih untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, kombinasi ilmu pengetahuan, nilai-nilai agama, dan kearifan masyarakat adat akan menghadirkan keberlanjutan serta pelestarian ini berjalan lebih efektif. Pandangan tersebut dituangkan dalam rangkaian acara Science Immersion Fellowship yang digelar usai peluncuran Chapter Interfaith Rainforest Initiative Indonesia Papua Barat Daya di Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelama tiga hari, acara tersebut mempertemukan para ilmuwan, pemuka agama, masyarakat adat, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil untuk membahas masa depan hutan Papua melalui beragam sudut pandang. Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Sorong, Budi Satrio mengemukakan bahwa perubahan iklim telah terjadi peningkatan sehingga memengaruhi pola cuaca di Papua.
Menurut Budi Satrio, kenaikan suhu udara dan perubahan cuaca ini menjadi sinyal penting dari dampak krisis iklim yang tidak lagi menjadi ancaman masa depan, melainkan sudah dirasakan saat ini. Sebagaimana dilaporkan, penyelesaian permasalahan lingkungan ini tidak lagi bisa dilakukan oleh satu sektor saja, melainkan membutuhkan pemahaman setara dari pemerintah, masyarakat, akademisi, hingga tokoh agama.
Sebagai tokoh masyarakat adat, Abdon Nababan menegaskan bahwa perlindungan hutan tidak terlepas dari masyarakat adat yang selama ini hidup bergantung pada hutan, sehingga masyarakat adat merupakan benteng utama dalam melindungi hutan. Mengutip laporan terkait, perlindungan ekosistem alami paling murah dan paling efektif adalah melindungi pelindung hutannya, yaitu masyarakat adat beserta pengetahuan tradisionalnya.
Abdon menilai bahwa selama ini masyarakat adat telah mewariskan berbagai pengetahuan mengenai cara mengelola hutan tanpa merusak keseimbangan alam. Pengetahuan inilah yang tidak hanya menjadi bagian dari budaya, tetapi juga menjadi bukti dalam menjaga kelestarian kawasan hutan selama turun temurun.
Sementara itu, Ahli Zoologi dan Biologi Konservasi Indonesia, Profesor Jatna Supriatna mengingatkan bahwa lebih dari 40 persen kekayaan biodiversitas Indonesia berada di Papua. Kekayaan tersebut menjadikan Papua sebagai salah satu wilayah terpenting bagi kelestarian keanekaragaman hayati yang harus didasarkan pada prinsip geo-ekologi dan konservasi agar tidak hilang akibat eksploitasi.
Selain menghadirkan perspektif ilmiah dan masyarakat adat, acara tersebut turut menyoroti pandangan agama dalam perlindungan lingkungan. Pendeta Ronald R. Tapilatu menegaskan bahwa iman, ilmu pengetahuan, dan kearifan masyarakat adat harus jalan berdampingan.