Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UN Security Council baru saja merampungkan putaran kedua pemungutan suara informal untuk menyeleksi kandidat Sekretaris Jenderal PBB berikutnya. Proses tertutup ini menjadi penentu penting dalam mengerucutkan nama-nama diplomat top dunia yang berlaga.
Berdasarkan laporan media Clarin, duta besar Guyana untuk PBB, Carolyn Rodrigues-Birkett, berhasil memimpin perolehan dukungan dengan mengantongi delapan suara mendukung. Ia sukses menggeser posisi diplomat Kosta Rika, Rebeca Grynspan, yang sebelumnya dijagokan sebagai kandidat terdepan.
Sementara itu, perwakilan dari Argentina yakni Rafael Grossi yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional atau IAEA, mendulang tujuh suara dukungan. Kendati demikian, laporan menyebutkan bahwa suara penolakan terhadap Grossi melonjak drastis dari dua suara pada putaran pertama menjadi enam suara pada sesi kali ini.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagaimana diwartakan oleh kantor berita EFE, proses seleksi indikatif ini dilakukan secara anonim di ruang tertutup menggunakan kategori dukungan, penolakan, atau tanpa opini. Hasil dari pemungutan suara ini nantinya akan menjadi rekomendasi resmi kepada Majelis Umum PBB.
Persaingan memperebutkan kursi puncak kepemimpinan PBB kali ini diramaikan oleh delapan kandidat kuat dari berbagai belahan dunia. Sebagian kalangan diplomatik menilai tahun ini menjadi momentum bagi kawasan Amerika Latin serta dorongan agar seorang perempuan dapat memimpin organisasi global tersebut untuk pertama kalinya.
Di tengah tantangan global yang kian kompleks, mulai dari melemahnya multilateralisme hingga krisis anggaran operasional, proses seleksi ini diprediksi masih akan memakan waktu panjang. Setiap kandidat harus mengamankan minimal sembilan suara tanpa ada veto dari lima anggota tetap Dewan Keamanan agar bisa keluar sebagai pemenang.