Serangan rudal malam hari yang dilancarkan Rusia menewaskan tiga orang warga sipil, termasuk seorang anak, di kawasan dekat ibu kota Ukraina, Kyiv. Berdasarkan laporan otoritas setempat, gempuran rudal balistik tersebut juga melukai tiga orang lainnya di wilayah sebelah timur Kyiv.
Gempuran mematikan ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah gelombang serangan sebelumnya menewaskan 21 orang di tengah menipisnya cadangan rudal interseptor sumbangan negara-negara Barat milik Ukraina. Menanggapi situasi genting tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka kembali mendesak pasokan rudal pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDesakan tersebut mengemuka menyusul dinamika politik di Washington, di mana Presiden Donald Trump sebelumnya dikabarkan menarik kembali janji izin produksi sistem pertahanan bagi Ukraina. Dari analisis awak media, langkah pembatasan bantuan militer langsung oleh Amerika Serikat membuat Kyiv kini sangat bergantung pada sokongan finansial serta pasokan peralatan dari negara-negara sekutu di Eropa.
"Ukraina tidak memiliki dan tidak akan pernah memiliki dana sebesar yang dimiliki Rusia untuk membiayai perang ini," ujar Zelensky dalam keterangannya. Ia menegaskan bahwa negaranya sangat membutuhkan tambahan pendanaan khusus guna menggenjot produksi alat pertahanan secara mandiri di dalam negeri.
Di tengah lawatannya ke Serbia untuk menemui Presiden Aleksandar Vučić guna membahas kerja sama ekonomi dan keamanan, Zelensky terus berupaya memperluas dukungan internasional. Di sisi lain, eskalasi konflik kian tak terbendung setelah militer Ukraina melancarkan serangan balasan menggunakan drone jarak jauh yang membakar kilang minyak Ilsky serta Syzran di dalam wilayah teritorial Rusia.