Tesla Model Y versi Premium yang dipasarkan di Amerika Serikat dan Puerto Rico kini resmi mendapatkan fitur Vehicle-to-Load atau V2L untuk mengekspor energi dari baterai bertegangan tinggi miliknya. Kehadiran kemampuan baru ini menjadikan lini crossover terlaris tersebut semakin fungsional dalam mendukung kebutuhan kelistrikan portabel.
Fitur V2L ini membutuhkan pembelian adapter opsional seharga USD 80 atau sekitar Rp 1,3 juta yang dapat langsung dipesan melalui konfigurator online resmi Tesla. Adapter tersebut dicolokkan ke pengisi daya seluler bawaan dan menyediakan dua buah stopkontak 120 volt dengan batasan daya keluaran maksimal sebesar 2,4 kilowatt.
Meskipun menawarkan kemudahan baru bagi pengguna, fitur ini masih memiliki beberapa keterbatasan operasional di lapangan. Kapasitas daya 2,4 kW yang disediakan terbilang cukup terbatas dan belum mendukung sistem Vehicle-to-Home sehingga pemilik memerlukan kabel ekstensi panjang untuk menyalakan perangkat esensial seperti kulkas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLangkah Tesla ini dinilai tertinggal dibandingkan para kompetitor lama di industri otomotif global yang telah lebih dulu mengadopsi teknologi serupa sejak lama. Sebagai contoh, Hyundai telah menyediakan fitur V2L hingga 3,6 kW pada model Ioniq 5 sejak 2021 dengan adapter standar yang sudah disertakan secara gratis di dalam paket pembelian.
Perjalanan Tesla Menghadirkan Teknologi V2L Pada Kendaraan
Hingga saat ini, pembaruan fitur V2L baru diterapkan pada varian Model Y Premium, Performance, dan model L di pasar Amerika Serikat saja. Sementara itu, varian entry-level Model Y serta seluruh jajaran mobil listrik Model 3 belum mendapatkan fasilitas serupa di wilayah Amerika maupun Kanada dan Eropa.
Penerapan teknologi Vehicle-to-Load oleh Tesla tergolong lambat jika dibandingkan dengan dominasi mereka di pasar kendaraan listrik Amerika Serikat. Perusahaan milik Elon Musk ini pertama kali memperkenalkan fitur penyaluran daya luar melalui kendaraan pikap futuristik Cybertruck sebelum menyematkannya ke lini Model Y.
Varian Model Y Performance mulai mendapatkan fitur serupa pada akhir tahun lalu, disusul oleh varian Model Y L yang baru saja diperkenalkan di pasar AS bulan lalu. Kehadiran opsi ini di tipe Premium memperluas jangkauan fitur praktis bagi konsumen yang membutuhkan pasokan listrik darurat.
Kendati demikian, kebijakan Tesla yang mewajibkan konsumen membayar biaya tambahan sebesar USD 80 untuk mendapatkan adapter khusus menuai catatan tersendiri. Berbeda dengan pabrikan lain yang menyertakan perangkat tersebut secara cuma-cuma, pembeli Tesla harus menambah pengeluaran untuk menikmati fungsi V2L.
Pengamat otomotif mencatat bahwa penambahan fitur ini sangat membantu para pengemudi ketika terjadi pemadaman listrik mendadak di area tempat tinggal mereka. Meskipun demikian, absennya fitur ini pada lini Model 3 menjadi kekecewaan tersendiri bagi sebagian besar pengguna setia kendaraan listrik tersebut.
Tesla belum memberikan pengumuman resmi melalui saluran komunikasi utama terkait perluasan fitur V2L ke pasar internasional lainnya seperti Kanada dan Eropa. Perusahaan terus memantau respons pasar domestik sebelum memutuskan peluncuran lanjutan untuk wilayah global lainnya.