Warga Palestina Amerika di Turmus Ayya Tepi Barat menghadapi situasi mencekam akibat lonjakan serangan dari para pemukim Israel yang semakin beringas di wilayah tersebut. Desa yang dihuni oleh banyak diaspora asal New York, Chicago, dan New Jersey ini kini berubah menjadi area konflik yang menakutkan bagi para warganya.
Mayoritas penduduk Turmus Ayya memegang kewarganegaraan Amerika Serikat dan kerap pulang saat musim panas untuk mengenalkan budaya serta bahasa Arab kepada anak-anak mereka. Namun, kehadiran permukiman ilegal di sekitar lembah menciptakan ancaman harian berupa teror malam hari, lemparan bom molotov, hingga aksi vandalisme.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKepala Dewan Desa Turmus Ayya, Yaser Alkam, mengungkapkan bahwa bentrokan terjadi secara tidak seimbang karena warga hanya bisa bertahan dengan sarana seadanya. Situasi ini diperparah oleh kunjungan diplomatik pejabat tinggi AS yang dinilai memberikan dukungan terselubung terhadap perluasan wilayah pendudukan.
Para penduduk setempat kini hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan terpaksa memperketat keamanan rumah mereka dengan pagar berduri serta kawat pengaman. Sebagian warga bahkan merasa kecewa karena pemerintah AS dinilai gagal memberikan perlindungan maksimal bagi warganya sendiri di wilayah pendudukan.
Warga Palestina Amerika di Turmus Ayya Tepi Barat menghadapi situasi mencekam akibat lonjakan serangan dari para pemukim Israel yang semakin beringas di wilayah tersebut. Desa yang dihuni oleh banyak diaspora asal New York, Chicago, dan New Jersey ini kini berubah menjadi area konflik yang menakutkan bagi para warganya.
Mayoritas penduduk Turmus Ayya memegang kewarganegaraan Amerika Serikat dan kerap pulang saat musim panas untuk mengenalkan budaya serta bahasa Arab kepada anak-anak mereka. Namun, kehadiran permukiman ilegal di sekitar lembah menciptakan ancaman harian berupa teror malam hari, lemparan bom molotov, hingga aksi vandalisme.
Kepala Dewan Desa Turmus Ayya, Yaser Alkam, mengungkapkan bahwa bentrokan terjadi secara tidak seimbang karena warga hanya bisa bertahan dengan sarana seadanya. Situasi ini diperparah oleh kunjungan diplomatik pejabat tinggi AS yang dinilai memberikan dukungan terselubung terhadap perluasan wilayah pendudukan.
Para penduduk setempat kini hidup di bawah bayang-bayang ketakutan dan terpaksa memperketat keamanan rumah mereka dengan pagar berduri serta kawat pengaman. Sebagian warga bahkan merasa kecewa karena pemerintah AS dinilai gagal memberikan perlindungan maksimal bagi warganya sendiri di wilayah pendudukan.