Pemandangan tak biasa tersaji di Museum R. Hamong Wardoyo, Boyolali, pada Kamis (20/8/2026). Ratusan siswa sekolah dasar dari 22 kecamatan berkumpul bukan untuk asyik dengan gawai masing-masing, melainkan untuk beradu ketangkasan dalam lomba permainan tradisional guna memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Boyolali ini menyulap berbagai sudut museum menjadi arena perlombaan. Anak-anak tampak antusias memainkan egrang yang dikreasikan dengan sepak bola, melompat tali karet, hingga adu strategi dalam permainan dakon.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Boyolali, Sunardi, mengungkapkan bahwa langkah ini diambil untuk menjaga warisan budaya agar tetap relevan di tengah gempuran teknologi dan maraknya gim daring. Menurutnya, kesadaran akan pentingnya melestarikan permainan tradisional harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Permainan tradisional merupakan objek pemajuan kebudayaan yang perlu dijaga agar tidak hilang ditelan zaman. Harapan kami, di dalam diri anak tumbuh pemahaman bahwa selain permainan modern, ada permainan tradisional yang tidak kalah seru," ujar Sunardi dikutip dari laporan media setempat.
Untuk menambah daya tarik, pihak penyelenggara melakukan sejumlah modifikasi kreatif, seperti menggabungkan egrang dengan sepak bola agar lebih kompetitif. Upaya ini terbukti efektif menarik minat para peserta yang telah melalui seleksi ketat di tingkat kecamatan sebelum berlaga di tingkat kabupaten.
Salah satu peserta, Delvita Permata Septian dari SDN Cerme Juwangi, mengaku sangat menikmati pengalaman tersebut. Ia menyebut bahwa saat ini permainan tradisional sudah mulai ditinggalkan teman-temannya yang lebih memilih bermain gim di ponsel.
Selain piagam yang dapat diperhitungkan untuk syarat masuk sekolah menengah pertama (SMP), kegiatan ini memberikan pengalaman berharga bagi para siswa. Sebagaimana diberitakan, para peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga diajak untuk lebih mengenal sejarah melalui lokasi museum yang digunakan sebagai tempat perlombaan.