Konsep ras Arya muncul pada periode akhir abad ke-19 dan pertengahan abad ke-20 untuk menggolongkan orang-orang keturunan Indo-Eropa. Konsep tersebut berasal dari anggapan bahwa penutur asli bahasa Indo-Eropa beserta keturunannya merupakan suatu ras atau subras tersendiri yang berbeda dari ras Kaukasia.
Istilah Arya umumnya digunakan untuk menjelaskan akar bahasa Proto-Indo-Iran yaitu arya, etnonim yang diadopsi bangsa Indo-Iran. Kata serumpun dalam bahasa Sanskerta adalah Arya, yang awalnya merupakan penunjukan diri etnis dan dalam bahasa Sanskerta Klasik berarti mulia, terhormat, serta bangsawan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKata serumpun dalam bahasa Persia Kuno adalah ariya-, bermakna nenek moyang dari nama modern Iran dan etnonim untuk bangsa Iran. Dalam World Atlas karya Rand McNally edisi 1944, ras Arya digambarkan sebagai salah satu dari sepuluh kelompok ras besar umat manusia.
Penulis fiksi ilmiah Poul Anderson, seorang tokoh libertarianisme anti-rasis berdarah Skandinavia, dalam banyak karyanya secara konsisten menggunakan istilah Arya sebagai sinonim untuk Indo-Eropa.
Asal Usul dan Perkembangan Konsep Ras Arya
Ideologi Nazisme didasarkan pada konsep ras Arya kuno sebagai ras unggul, memegang posisi tertinggi dalam hierarki rasial dan menganggap bangsa Jerman adalah golongan ras Arya paling murni.
Konsep Nazi mengenai ras Arya muncul dari para pendukung supremasi ras sesuai penjelasan pakar teori rasial seperti Arthur de Gobineau dan Houston Stewart Chamberlain.
Perkembangan pemahaman mengenai kelompok etnis ini bermula dari kajian bahasa kuno di kawasan Eurasia. Para peneliti masa lalu berusaha menghubungkan rumpun bahasa dengan ciri fisik manusia.
Teori-teori antropologi fisik pada masa lampau kerap mencampuradukkan antara kategori linguistik dan biologis. Hal tersebut memicu berbagai interpretasi berbeda di kalangan ilmuwan barat kala itu.