Profil Kota Tua Jakarta merekam jejak kawasan bersejarah seluas 1,3 kilometer persegi yang melintasi wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Barat. Wilayah khusus ini dulunya dijuluki sebagai Permata Asia dan Ratu dari Timur oleh para pelayar Eropa berkat perannya sebagai pusat perdagangan utama.
Berdasarkan catatan sejarah, kawasan pelabuhan Sunda Kelapa diserang oleh Fatahillah dari Kesultanan Demak pada tahun 1526 dan berganti nama menjadi Jayakarta. VOC di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen kemudian menghancurkan wilayah tersebut pada tahun 1619 dan mendirikan kota baru bernama Batavia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBatavia dirancang dengan gaya arsitektur Eropa lengkap dengan benteng pertahanan, dinding kota, serta jaringan kanal menyerupai kota di Belanda. Seiring berjalannya waktu, pusat pemerintahan bergeser ke arah selatan menuju kawasan Weltevreden akibat masalah sanitasi di kota lama.
Gubernur Jakarta Ali Sadikin mengeluarkan dekret resmi pada tahun 1972 untuk menjadikan kawasan tersebut sebagai situs warisan guna melindungi bangunan arsitektur kolonial yang masih tersisa. Pemerintah bersama berbagai lembaga kini terus berupaya merestorasi kawasan tersebut agar tetap lestari.
Transformasi Kawasan Wisata dan Revitalisasi Kota Tua
Berbagai museum penting berdiri di kawasan ini, seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, hingga Museum Bank Indonesia. Pengunjung juga dapat menikmati ragam kuliner khas Betawi seperti kerak telor dan es selendang mayang di sekitar Lapangan Fatahillah.
Revitalisasi kawasan bersejarah ini mulai digencarkan pada tahun 2007 melalui penutupan sejumlah ruas jalan di sekitar Lapangan Fatahillah bagi kendaraan bermotor. Langkah tersebut diambil guna memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki dan wisatawan yang ingin menikmati suasana tempo dulu.
Organisasi nirlaba bersama institusi swasta turut ambil bagian dalam proyek pemugaran bangunan-bangunan tua agar tidak terbengkalai. Sinergi antara pemerintah dan masyarakat diharapkan mampu mengembalikan kejayaan arsitektur kolonial sebagai daya tarik wisata utama ibu kota.
Kawasan ini juga terhubung dengan berbagai moda transportasi umum modern untuk memudahkan mobilitas masyarakat yang ingin berkunjung. Aksesibilitas yang semakin baik menjadikan destinasi ini selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara setiap akhir pekan.