De Hollandsche Kerk atau Gereja Belanda berdiri megah di kawasan Heerenstraat atau kini dikenal sebagai Jalan Pintu Besar Utara, Jakarta. Bangunan historis yang dulunya bernama Kruiskerk ini hancur total akibat hantaman gempa bumi hebat pada tahun 1808.
Pembangunan gereja bermula pada masa kekuasaan VOC di Batavia ketika Gubernur Jenderal Jacques Specx melakukan pemancangan tiang pertama tahun 1632 di atas bekas aliran Kali Ciliwung. Lokasi tersebut dipilih strategis di dalam kompleks Kastel Batavia guna melayani kebutuhan rohani warga kolonial saat itu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBentuk bangunan gereja dirancang mirip dengan Norderkerk di Amsterdam, Belanda. Setelah sempat mengalami renovasi besar pada tahun 1733 karena persoalan penempatan organ pipa, namanya berganti menjadi De Grote Hollandse Kerk atau De Nieuwe Hollandse Kerk sebagai pusat ibadah utama.
Pasca kehancurannya akibat gempa, lahan bekas gereja tersebut beralih fungsi menjadi gudang perusahaan Geo Wehry & Co dengan gaya arsitektur Neo-Reinaissance. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menetapkannya sebagai bangunan monumen bersejarah pada Agustus 1936.
Transformasi Lahan Gereja Belanda Menjadi Museum Wayang
Gedung eks gudang tersebut dibeli oleh Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen demi kepentingan riset ilmu pengetahuan. Gedung ini sempat berfungsi sebagai Museum Batavia Lama hingga berganti nama menjadi Museum Wayang pada tahun 1975.
Transformasi lahan bekas De Hollandsche Kerk mencerminkan dinamika tata kota Jakarta dari masa kolonial hingga era kemerdekaan Indonesia. Alih fungsi bangunan terus berlanjut seiring kebutuhan pelestarian budaya dan sejarah bangsa.
Lembaga Stichting oud Batavia menerima penyerahan gedung tersebut pada tahun 1937 untuk dikelola sebagai museum. Peresmian museum perdana dilakukan langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda terakhir yaitu Tjarda van Starkenborgh Stachouwer.
Memasuki era kemerdekaan Indonesia, bangunan bersejarah ini sempat menyandang status sebagai Museum Djakarta Lama sebelum akhirnya diresmikan sebagai Museum Wayang pada 13 Agustus 1975. Destinasi ini kini menjadi daya tarik wisata edukasi di kawasan Kota Tua Jakarta.