Profil Museum Matan atau Museum Gusti Saunana di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, berdiri di atas bekas kawasan keraton Kesultanan Matan. Bangunan bersejarah ini terletak di Jalan Pangeran Kesumajaya, Desa Mulia Kerta, Benua Kayong, serta menjadi pusat pelestarian warisan budaya lokal.
Keraton tersebut dibangun pertama kali pada tahun 1924 oleh Pangeran Perdana Menteri Haji Muhammad Sabran selaku Sultan kesepuluh lima Kesultanan Tanjungpura. Bangunan ini kemudian ditempati oleh Panembahan Gusti Muhammad Saunan yang memimpin Kesultanan Matan Ketapang pada masa itu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemerintah Kabupaten Ketapang kemudian mengubah fungsi kompleks istana ini menjadi museum umum untuk merawat benda-benda peninggalan masa lampau. Kendati demikian, status kepemilikan bangunan keraton hingga kini masih dipegang oleh Ikatan Keluarga Besar Kerajaan Matan Tanjungpura.
Keberadaan museum ini menawarkan destinasi wisata edukasi yang memperkaya wawasan pengunjung tentang peradaban masa lalu. Masyarakat dapat menyaksikan langsung jejak kejayaan kesultanan di tanah Kalimantan Barat secara gratis maupun dengan panduan resmi.
Arsitektur Khas Eropa dan Koleksi Meriam Kerajaan
Arsitektur bangunan Museum Matan mengadopsi gaya Eropa pengaruh Belanda dengan menggunakan bahan dasar kayu ulin. Bangunan bergaya panggung ini memiliki luas 714 meter persegi dan dilengkapi dengan menara penjaga di bagian sebelah barat daya.
Koleksi yang tersimpan di dalam museum mencakup benda-benda bernilai sejarah tinggi seperti numismatika, historika, heraldika, dan etnografika. Pengunjung dapat melihat singgasana sultan beserta permaisuri, foto keluarga kerajaan, kain tenun kuno berusia ratusan tahun, hingga tempat tidur bangsawan.
Salah satu daya tarik utama di halaman depan museum adalah sepasang meriam peninggalan kesultanan yang dinamakan Meriam Padam Pelita. Meriam laki-laki dan perempuan ini konon memiliki suara dentuman sangat keras hingga mampu memadamkan pelita di wilayah sekitarnya.
Selain bangunan museum utama, terdapat pula Kompleks Makam Raja-raja Matan yang berada di sebelah tenggara sejauh 300 meter. Kompleks makam seluas 1.747 meter persegi ini melengkapi nilai sejarah dan budaya di kawasan Sungai Pawan, Ketapang.