Kalimantan Timur merupakan salah satu pelopor peradaban tertua di Nusantara berkat penemuan tujuh prasasti yupa beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta di Muara Kaman. Catatan sejarah mencatat wilayah ini telah dihuni manusia sejak zaman es oleh ras Negrid Weddid, sebelum gelombang migrasi Proto Melayu dan Deutro Melayu datang mengisi daratan Borneo.
Berdasarkan kajian para ahli, Kerajaan Martapura atau yang kerap diasosiasikan dengan Kutai Martapura berdiri pada kisaran abad ke-4 Masehi di Muara Kaman. Pendiri dinasti kerajaan tersebut adalah Aswawarman, putra dari Kundungga, yang kemudian membawa kerajaan mencapai puncak kejayaan di bawah kepemimpinan Maharaja Mulawarman dengan surplus sumber daya melimpah.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKejayaan Kerajaan Martapura bergeser setelah kekalahan Maharaja Derma Setia dalam pertempuran melawan Raja Kutai Kertanegara ke-6, Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa, pada tahun 1635. Unifikasi kedua wilayah kekuasaan itu melahirkan entitas baru bernama Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martapura yang berpusat di sejumlah wilayah penting sebelum bertransformasi menjadi kesultanan.
Dinamika politik di tanah Borneo turut diwarnai oleh eksistensi Kesultanan Berau yang didirikan oleh Baddit Dipattung pada abad ke-14 di Sungai Lati. Perjalanan panjang kesultanan ini kemudian melahirkan pecahan wilayah penting seperti Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Sambaliung pada awal abad ke-19.
Jejak Transformasi Kerajaan dan Kesultanan di Borneo
Jejak kekuasaan Islam dan perdagangan regional juga mengalir kuat di Kesultanan Bulungan yang berdiri sejak tahun 1731 di wilayah pesisir utara Kalimantan. Eksistensi berbagai kerajaan dan kesultanan tersebut akhirnya melebur ke dalam pemerintahan kolonial Hindia Belanda sebelum bertransformasi menjadi Provinsi Kalimantan Timur pada 9 Januari 1957.
Transformasi kekuasaan di bumi Borneo memperlihatkan bagaimana entitas lokal beradaptasi dengan masuknya pengaruh agama Islam dan dinamika kolonialisme. Kesultanan Kutai Kertanegara sendiri mulai menerima ajaran Islam pada tahun 1575 melalui dakwah Tuan Tunggang Parangan di masa pemerintahan Raja Makota.
Perubahan struktur pemerintahan juga terjadi ketika gelar raja resmi diganti menjadi sultan pada tahun 1732, dengan Aji Muhammad Idris tercatat sebagai penguasa pertama yang menggunakan nama Islami. Pusat pemerintahan kerajaan ini sempat mengalami beberapa kali perpindahan lokasi mulai dari Kutai Lama hingga ke Tepian Pandan atau Tenggarong.
Sementara itu, Kesultanan Bulungan yang menguasai wilayah pesisir luas memiliki sejarah panjang hubungan diplomatik dan perdagangan dengan kekuatan asing termasuk Kesultanan Sulu dan Kesultanan Brunei. Pengaruh Kesultanan Sulu di wilayah tersebut perlahan memudar setelah adanya perjanjian internasional antara Inggris dan Spanyol.