Kabayan News Kabayan News
/home / olahraga / DNA Inggris Hilang di Piala Dunia...
OLAHRAGA

DNA Inggris Hilang di Piala Dunia 2026, Tuchel Beri Pembelaan

By Redaksi Kabayan News • 2 min read • 18 Juli 2026
Pelatih Inggris Thomas Tuchel memberikan instruksi saat laga semifinal Piala Dunia 2026

Pelatih Inggris Thomas Tuchel memberikan instruksi saat laga semifinal Piala Dunia 2026

Kegagalan Inggris melaju ke final Piala Dunia 2026 memunculkan perdebatan besar mengenai gaya bermain The Three Lions di bawah asuhan Thomas Tuchel. Dari pantauan redaksi, Inggris yang sempat unggul lebih dulu justru harus menelan kekalahan dramatis 1-2 dari Argentina pada babak semifinal akibat dua gol telat yang dicetak oleh Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.

Hasil minor tersebut langsung memicu kritik tajam terhadap keputusan Thomas Tuchel yang kembali mengubah formasi menjadi lima bek. Perubahan ini dinilai membuat Inggris terus berada di bawah tekanan hebat hingga akhirnya gagal mempertahankan keunggulan yang sudah di depan mata.

Namun, pelatih asal Jerman tersebut memiliki pandangan yang berbeda mengenai hasil laga. Menurut Thomas Tuchel, persoalan utama Inggris bukan semata-mata karena strategi permainan, melainkan adanya karakter atau "DNA sepak bola" yang berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara kuat lainnya seperti Spanyol maupun Argentina.

"Penguasaan bola memainkan peran penting. Mungkin itu bukan bagian dari DNA kami seperti halnya DNA Spanyol atau DNA Argentina-Brasil," ujar Thomas Tuchel seperti yang dikutip dari Mirror.

Berdasarkan analisis data pertandingan, ucapan mantan pelatih Chelsea, Bayern Munchen, dan PSG tersebut ternyata memiliki dasar yang kuat. Sepanjang pertandingan semifinal bergengsi itu, tim redaksi mengamati bahwa Inggris benar-benar kalah total dalam mengendalikan permainan, penguasaan bola, jumlah operan, hingga kreativitas serangan.

Pernyataan Thomas Tuchel sempat menuai kritik karena dianggap sebagai pembelaan diri atas kegagalannya. Menurut Football Enthusiast Gigih, pendekatan yang diterapkan oleh sang pelatih dinilai terlalu mengedepankan disiplin khas sepak bola Jerman dibandingkan identitas tradisional Inggris.

"Pendekatan Thomas Tuchel memang sering dikritik karena dianggap terlalu Jerman dan tidak cukup mencerminkan sepak bola Inggris tradisional. Tapi disiplin taktis yang diterapkannya berhasil membawa Inggris ke semifinal dan fleksibilitas taktiknya menjadi kunci menghadapi tekanan besar di turnamen ini," ujar Gigih dalam Podcast Super Taktik Tribunnews.

Kini, Thomas Tuchel hanya memiliki satu kesempatan terakhir di Piala Dunia 2026 saat mendampingi anak asuhnya melawan Prancis dalam perebutan tempat ketiga. Laga krusial tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu (19/7/2026) pukul 04.00 WIB, di mana kemenangan setidaknya dapat meredakan amarah dari para suporter setia Inggris.

Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.