Gianni Infantino mengukuhkan posisinya sebagai penguasa tertinggi di peta sepak bola global setelah sukses meredam tekanan politik UEFA dan mengamankan dukungan penuh Dewan Manajemen FIFA.
Berdasarkan laporan redaksi, rapat krisis di Rabat, Maroko, menjadi panggung pembuktian bagi pria kelahiran Swiss tersebut untuk tetap memegang kendali penuh atas organisasi sepak bola sejagad.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBadan sepak bola Eropa tersebut sebelumnya melayangkan tekanan masif agar sang presiden mundur menyusul kontroversi rencana pembentukan anak perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise.
Entitas baru itu dirancang khusus mengelola Piala Dunia beserta berbagai turnamen besar lain dengan opsi melepas hingga 20 persen saham kepada pihak investor luar.
Perjalanan karier politik sepak bola Infantino bermula jauh sebelum memimpin lembaga tertinggi ini, termasuk saat menjabat sekretaris jenderal UEFA mendampingi Michel Platini.
Namanya melambung di mata publik pencinta si kulit bundar berkat kebiasaannya memandu jalannya prosesi pengundian turnamen elit antarklub Benua Biru di televisi.
Titik balik kepemimpinan globalnya terbuka lebar pada tahun 2015 menyusul skandal korupsi besar yang merontokkan sejumlah petinggi lama lembaga tersebut.
Pengamatan awak media menyimpulkan bahwa kemampuan diplomasi serta penguasaan jaringan internasional menjadi kunci utama bagi sang presiden dalam mempertahankan hegemoni kekuasaannya.