Pertandingan perebutan tempat ketiga di ajang Piala Dunia sering kali dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai sekadar laga hiburan bagi tim yang gagal melaju ke partai final. Namun, bagi beberapa negara, pertandingan ini justru menjadi panggung pembuktian sejarah, persaudaraan, hingga diplomasi politik yang sangat berharga.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Salah satu kisah paling ikonik terjadi pada Piala Dunia 1998 di Prancis, saat Kroasia berhasil menumbangkan Belanda dengan skor 2-1. Bagi Kroasia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya pada 1991 setelah melalui perang sipil yang kelam, raihan tempat ketiga lewat gol Davor Šuker dan Robert Prosinečki bukan sekadar medali perunggu, melainkan momentum penting untuk mengenalkan identitas bangsa mereka di peta dunia.
Kisah menyentuh lainnya datang dari gelaran Piala Dunia 2002 yang mempertemukan Korea Selatan dan Turki. Kedua negara memiliki hubungan emosional yang kuat sejak Perang Korea pada medio 1950-an. Laga yang dimenangkan Turki dengan skor 3-2 ini tidak hanya mencatatkan rekor gol tercepat Hakan Şükür dalam waktu 10,8 detik, tetapi juga diwarnai aksi saling peluk dan putaran penghormatan bersama di akhir laga yang menunjukkan indahnya perdamaian.
Tak kalah menarik, generasi emas Belgia juga berhasil mengukir tinta emas pada Piala Dunia 2018 di Rusia setelah menumbangkan Inggris dua gol tanpa balas. Gol dari Thomas Meunier dan Eden Hazard memastikan peringkat ketiga terbaik sepanjang sejarah sepak bola Belgia, yang kemudian disambut pesta pora oleh sekitar 40.000 pendukung fanatik mereka setibanya di Brussels.