Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Buntut Spanduk Falkland, FIFA...
BERITA

Buntut Spanduk Falkland, FIFA Diminta Selidiki Cristian Romero

Bek Argentina Cristian Romero saat merayakan kemenangan kontroversial atas Inggris

Bek Argentina Cristian Romero saat merayakan kemenangan kontroversial atas Inggris

Bek sekaligus kapten Tottenham Hotspur, Cristian Romero, mendadak jadi sorotan tajam setelah kedapatan berada di barisan depan saat para pemain timnas Argentina merayakan kemenangan semifinal Piala Dunia atas Inggris. Masalahnya, mereka merayakannya di atas lapangan dengan membentangkan spanduk kontroversial terkait Kepulauan Falkland.

Sebelum pertandingan panas tersebut bergulir, pelatih Argentina Lionel Scaloni sebenarnya sudah menegaskan bahwa dirinya tidak ingin laga ini dikaitkan dengan konflik wilayah seberang laut Inggris tersebut. Namun, setelah Argentina berhasil membalikkan keadaan dari tertinggal 1-0 menjadi menang 2-1 di lima menit terakhir, para pemain justru membentangkan spanduk bertuliskan "Las Malvinas son Argentinas" yang berarti "Kepulauan Falkland adalah milik Argentina".

Akibat aksi provokatif ini, para pemain Argentina serta federasi sepak bola mereka (AFA) kini terancam hukuman berat dari FIFA. Kasus serupa pernah terjadi di panggung Euro 2024 saat UEFA menjatuhkan skorsing satu pertandingan kepada Rodri dan Alvaro Morata setelah keduanya menyanyikan yel-yel "Gibraltar adalah milik Spanyol" dalam perayaan juara.

Tuntutan agar FIFA turun tangan pun langsung disuarakan oleh Sekretaris Bisnis Inggris, Peter Kyle. Dalam wawancaranya bersama BBC, Kyle mendesak adanya investigasi menyeluruh terhadap aksi tim Tango tersebut.

"Politik harus dipisahkan dari sepak bola. Faktanya, salah satu prinsip utama Piala Dunia adalah menjaga politik tetap berada di luar lapangan. Masalah ini sekarang sepenuhnya ada di tangan FIFA. Saya berharap FIFA melakukan investigasi ini secara menyeluruh," ujar Peter Kyle tegas.

Ketegangan politik antara Argentina dan Britania Raya terkait Kepulauan Falkland memang masih menyisakan luka lama. Konflik ini sempat memuncak menjadi perang terbuka pada tahun 1982 ketika pasukan Argentina melancarkan invasi ke pulau tersebut, yang kemudian memicu respons militer besar-besaran dari pihak Inggris.

Bahkan sebelum laga dimulai, Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel sudah memanaskan tensi dengan menyebut Inggris sebagai "penjajah" dan "bajak laut perampas". Dia menyatakan bahwa pertandingan melawan Inggris tidak akan pernah menjadi laga sepak bola biasa.

"Besok kita bertanding melawan bajak laut perampas. Ini bukan sekadar pertandingan biasa. Saya tidak akan bersikap politis atau berdarah dingin; melawan Inggris, selalu ada hal yang lebih. Ini tentang Malvinas, tentang Diego, tentang laga terakhir Leo, dan ini tentang menghentikan para penjajah," tutur Villarruel dalam pernyataan kontroversialnya.

Di sisi lain, FIFA bersama Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) dikenal sangat kaku dan tegas melarang segala bentuk atribut bermuatan politik di dalam stadion. Aturan IFAB dengan jelas menyatakan bahwa perlengkapan tim tidak boleh memuat slogan, pernyataan, atau gambar yang berkaitan dengan politik, agama, maupun pribadi.

Berdasarkan regulasi resmi tersebut, setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pemain atau tim akan langsung dijatuhi sanksi oleh pihak penyelenggara kompetisi, asosiasi sepak bola nasional, atau langsung oleh FIFA sendiri. Nasib Romero dan kawan-kawan kini berada di ujung tanduk menunggu keputusan resmi otoritas tertinggi sepak bola dunia.

// TOPICS
#cristian_romero #timnas_argentina #piala_dunia #sanksi_fifa #kepulauan_falkland #inggris_vs_argentina
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.