Dalam sejarah sepak bola Portugal, keberhasilan Boavista Futebol Clube menjuarai Primeira Liga pada musim 2000/2001 tetap menjadi salah satu momen paling ikonik. Pada 27 Mei 2001, meski menelan kekalahan 0-4 dari FC Porto di laga pamungkas, pesta juara tetap milik klub berjuluk Axadrezados tersebut karena mereka telah mengunci gelar sejarah sembilan hari sebelumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Kesuksesan langka di luar dominasi tiga kekuatan besar Portugal itu tidak lepas dari peran pelatih Jaime Pacheco. Ditunjuk oleh presiden klub João Loureiro, mantan gelandang beretos kerja tinggi tersebut membangun skuad Boavista dengan kedisiplinan fisik luar biasa dan mentalitas tanpa rasa takut.
Mantan bek Boavista, Pedro Emanuel, mengenang bagaimana sang pelatih membentuk karakter tim secara drastis sejak awal kedatangannya. "Dengan Pacheco, tuntutan langsung naik satu tingkat. Dia terus mengulang bahwa dia ingin tim memiliki jiwa, dan kolektivitas harus di atas segalanya," ujar Pedro Emanuel.
Metode latihan ekstrem menjadi makanan harian para pemain, mulai dari berlari mengelilingi taman kota hingga sesi sprint intensif yang memicu fisik mereka bekerja sampai batas maksimal. Mantan pemain asal Prancis, William Quevedo, mengungkapkan ketatnya instruksi Pacheco saat memoles timnya. "Menghadapi tiga tim besar, tim lain bermain untuk tidak kalah. Tidak dengan kami. Pacheco tidak pernah mengajari kami kata kalah," kata Quevedo.
Sayangnya, masa keemasan klub yang bermarkas di Stadion Bessa XXI itu tidak bertahan lama. Setelah menembus semifinal Piala UEFA 2003, Boavista mulai terperosok ke dalam krisis. Pada 2008, klub dijatuhi sanksi degradasi administratif akibat skandal Apito Dourado terkait penyuapan wasit pada musim 2003/2004, yang memicu kemunduran panjang hingga krisis finansial di era modern.