Penggunaan obat penurun berat badan berbasis GLP-1 di kalangan atlet profesional tengah memicu perdebatan hangat di dunia olahraga internasional. Mengutip laporan dari BBC, zat yang populer lewat merek seperti Ozempic, Wegovy, hingga Mounjaro ini tidak hanya membantu menurunkan berat badan, tetapi juga memunculkan pertanyaan seputar dampaknya terhadap peningkatan performa fisik.
Isu ini semakin mencuat setelah legenda tenis dunia Serena Williams secara terbuka mengakui mengonsumsi obat tersebut demi mengatasi kendala berat badan pasca melahirkan. Sebagaimana diwartakan, langkah terbuka sang bintang lapangan menuai pro dan kontra, mengingat sebagian pihak khawatir obat penurunn nafsu makan itu berpotensi memberikan keuntungan kompetitif yang tidak adil.
Meskipun belum secara resmi dilarang oleh Badan Antidoping Dunia atau WADA, zat-zat jenis ini terpantau ketat dalam program pemantauan khusus. Pakar antidoping David Cowan menjelaskan bahwa sebuah substansi harus memenuhi kriteria tertentu untuk diklasifikasikan sebagai doping, mulai dari potensi meningkatkan performa, membahayakan kesehatan, hingga melanggar nilai-nilai sportivitas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, para ilmuwan dan ahli fisiologi olahraga menilai bahwa penggunaan GLP-1 pada atlet masih menyisakan banyak tanda tanya ilmiah. Sejumlah risiko seperti potensi kehilangan massa otot, penurunan asupan kalori ekstrem, hingga gangguan pemulihan latihan membuat efektivitas obat ini bagi atlet elite masih harus dikaji secara mendalam sebelum ditentukan status hukumnya di kancah olahraga profesional.