Marcello Romeo Lippi, atau yang akrab disapa Marcello Lippi, adalah mantan pemain dan pelatih sepak bola profesional asal Italia. Pria kelahiran Viareggio, 12 April 1948 ini, dikenal sebagai salah satu arsitek kesuksesan tim nasional Italia saat menjuarai Piala Dunia 2006. Selain itu, namanya juga harum berkat prestasi gemilangnya di kursi kepelatihan, terutama saat menangani Juventus dan Guangzhou Evergrande.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Sepanjang kariernya sebagai pelatih, Lippi telah mengoleksi berbagai gelar prestisius. Mulai dari Piala Dunia 2006, satu Liga Champions UEFA, lima gelar Serie A Italia, tiga gelar Liga Super China, serta satu Piala FA China. Tak hanya itu, ia juga tercatat sebagai pelatih pertama dan satu-satunya yang berhasil memenangkan Liga Champions UEFA dan Liga Champions AFC. Pencapaian ini menegaskan reputasinya sebagai salah satu pelatih terbaik sepanjang masa.
Karier kepelatihan Lippi dimulai dari tim muda Sampdoria, sebelum akhirnya menangani berbagai klub di divisi bawah Italia. Pada tahun 1989, ia mulai merasakan kursi pelatih di Serie A bersama Cesena. Namun, nama Lippi mulai melambung ketika ia membawa Napoli lolos ke Piala UEFA pada musim 1993-94. Kesuksesan itu membuat Juventus tertarik dan merekrutnya, memulai era keemasan baru bagi Si Nyonya Tua.
Bersama Juventus, Lippi meraih kesuksesan luar biasa. Ia mempersembahkan gelar Serie A dan Coppa Italia di musim perdananya. Musim berikutnya, ia membawa Juventus menjuarai Liga Champions 1995-96, serta meraih Piala Super UEFA dan Piala Interkontinental. Di bawah asuhannya, Juventus menjelma menjadi tim yang tangguh dengan keseimbangan antara pertahanan dan serangan, serta dihuni oleh pemain-pemain bintang seperti Zinedine Zidane, Alessandro Del Piero, dan Gianluigi Buffon.
Setelah sukses di Juventus, Lippi sempat menangani Inter Milan namun tak bertahan lama. Ia kemudian kembali ke Juventus dan mempersembahkan dua gelar Serie A serta membawa tim ke final Liga Champions 2003. Puncak kariernya sebagai pelatih nasional terjadi saat ia memimpin Italia menjuarai Piala Dunia 2006. Di turnamen tersebut, Lippi dinilai cerdik dalam merotasi pemain dan menerapkan berbagai taktik yang membuat tim Azzurri tampil ofensif namun tetap solid di lini belakang.
Setelah sukses di tim nasional, Lippi mencoba peruntungan di China. Ia bergabung dengan Guangzhou Evergrande pada 2012 dan langsung membawa tim meraih gelar ganda. Pada 2013, ia mencatatkan sejarah dengan membawa Guangzhou menjadi juara Liga Champions AFC, gelar kontinental pertama bagi klub China dalam 23 tahun. Kesuksesan ini membuatnya menjadi pelatih pertama yang memenangkan Liga Champions di dua benua berbeda.
Lippi juga pernah menukangi tim nasional China pada dua periode berbeda. Meski tak membawa prestasi besar, pengalamannya di Asia menambah warna dalam karier kepelatihannya yang panjang. Pada Oktober 2020, pria berusia 72 tahun itu akhirnya memutuskan pensiun dari dunia kepelatihan. Kontribusi dan pengaruhnya dalam sepak bola dunia, terutama Italia, akan selalu dikenang sebagai salah satu yang terbesar.
Gaya kepelatihan Lippi kerap dipuji karena fleksibilitasnya. Ia mampu memadukan taktik tradisional Italia dengan pendekatan modern. Lippi dikenal sebagai pelatih yang sangat memperhatikan motivasi pemain dan membangun semangat tim yang kuat. Ia percaya bahwa sekelompok pemain terbaik belum tentu menjadi tim terbaik, melainkan bagaimana mereka saling bermain untuk satu sama lain. Filosofi inilah yang menjadi kunci kesuksesannya.