Kemenangan PSG di Liga Champions dan kesuksesan Timnas Spanyol di Piala Dunia membuktikan dominasi mutlak kedua tim. Meski harus berjuang keras hingga adu penalti dan babak perpanjangan waktu, kedua juara ini berhasil mengatasi lawan-lawan yang menerapkan taktik bertahan total. Pelatih seperti Mikel Arteta bersama Arsenal dan Lionel Scaloni bersama Argentina sempat mendapat kritik pedas karena dinilai terlalu defensif, namun pendekatan tersebut sangat dipahami demi menghindari kekalahan telak.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Arsenal mencoba bertahan dengan blok rendah sambil mengincar serangan balik, yang sempat membuahkan hasil lewat gol Kai Havertz sebelum akhirnya kalah dari skuad Luis Enrique. Sementara itu, Argentina menerapkan blok menengah yang rapat dan memperlambat tempo permainan Spanyol. Strategi bertahan yang dipadukan dengan serangan balik mematikan adalah hal yang sepenuhnya sah dalam sepak bola, sebab tidak ada nilai artistik atau moralitas dalam menentukan pemenang di atas lapangan.
Sejarah menunjukkan bahwa pendekatan ini sering digunakan saat menghadapi tim super favorit. Pada final Piala Dunia 2010, Belanda menerapkan permainan fisik dan bertahan total saat melawan Spanyol. Begitu pula Italia yang sukses meredam kehebatan Brasil di Piala Dunia 1982 berkat pertahanan kokoh dan efisiensi serangan balik Paolo Rossi. Sebaliknya, saat West Germany menghadapi Hungaria pada 1954 atau Belanda pada 1974, strategi berani dan efektivitas lini belakang menjadi kunci mematahkan dominasi tim favorit.
Tim penakluk seperti Spanyol dituntut selalu memiliki solusi untuk membongkar pertahanan lawan yang menumpuk pemain. Kesabaran, kedalaman skuad, dan penyelesaian akhir dari pemain seperti Ferran Torres menjadi pembeda. Belgia sempat memberi perlawanan sengit lewat strategi garis pertahanan tinggi dan operan Kevin De Bruyne, namun masuknya Pedri membuat Spanyol kembali memegang kendali penuh hingga memenangi laga. Sementara Prancis gagal total karena tidak memiliki rencana cadangan untuk meredam dominasi La Roja.
Ujian ketangguhan Spanyol berikutnya akan tersaji saat menghadapi Inggris di Wembley dalam ajang UEFA Nations League. Di sisi lain, PSG juga diprediksi kembali menjadi favorit utama pada Liga Champions musim mendatang. Publik kini menanti apakah ada pelatih yang mampu menemukan formula baru selain taktik "parkir bus" untuk menghentikan laju kedua tim paling dominan di dunia saat ini.