Berdasarkan laporan media Clarin, isu mengenai penuaan global kian menjadi sorotan seiring bertambahnya populasi lansia di dunia. Para ilmuwan menyoroti adanya kesenjangan signifikan antara berapa lama manusia hidup secara waktu kalender dibandingkan dengan berapa lama mereka benar-benar hidup dalam kondisi sehat tanpa penyakit.
Mengutip ulasan dr Mónica Katz, seorang dokter spesialis nutrisi, terdapat kesenjangan rata-rata selama sembilan tahun antara usia kronologis dan usia biologis manusia. "Tremendoso es pensar que la mayoría de nosotros vive 9 años sin salud," tulis laporan tersebut yang menggambarkan betapa krusialnya tantangan kesehatan modern dalam memperpanjang masa hidup sehat.
Selama puluhan tahun, dunia kedokteran lebih berfokus pada upaya memperpanjang durasi hidup secara keseluruhan daripada kualitas hidup itu sendiri. Namun saat ini, cabang ilmu biogerontologi mulai mengalihkan perhatian pada cara memperlambat kerusakan sel tubuh, seperti kerusakan DNA, pemendekan telomer, hingga disfungsi mitokondria yang menjadi pemicu utama penuaan biologis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKabar baiknya, berbagai penelitian mutakhir menunjukkan bahwa usia biologis bukanlah takdir yang kaku dan tidak dapat diubah. Berdasarkan laporan ilmiah tersebut, faktor gaya hidup sehari-hari seperti pola makan yang kaya nutrisi, aktivitas fisik, kualitas tidur yang baik, serta manajemen stres memiliki peran besar dalam memengaruhi ekspresi gen melalui mekanisme epigenetik.
Sebagai penutup, para ahli menekankan pentingnya pergeseran paradigma dari tindakan medis yang bersifat reaktif menjadi proaktif sebelum penyakit kronis benar-benar muncul. Dengan menjaga asupan nutrisi optimal serta menerapkan kebiasaan hidup sehat secara konsisten, setiap individu memiliki peluang untuk memperkecil celah usia biologis demi kualitas hidup yang lebih baik di masa tua.