Aksi demonstrasi yang digelar oleh aliansi gabungan mahasiswa di kawasan Patung Kuda, Monas, Jakarta Pusat pada Jumat sore menyita perhatian publik. Dari pantauan redaksi di lokasi, massa yang didominasi oleh mahasiswa dari berbagai universitas tersebut tampak kompak mengenakan pakaian bebas tanpa atribut jas almamater kampus mereka masing-masing.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Aksi unjuk rasa yang mengusung tajuk "Mosi Tidak Percaya Rezim Prabowo-Gibran" ini diinisiasi oleh Majelis Perjuangan Rakyat (MPR). Sebanyak kurang lebih 150 peserta aksi turun ke jalan mendesak pemerintah agar segera mengambil langkah konkret guna menurunkan harga berbagai kebutuhan pokok yang dinilai kian mencekik perekonomian rakyat.
Menurut penjelasan Jenderal Lapangan aksi yang juga mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Annur, keputusan untuk menanggalkan almamater sengaja diambil demi menyatukan gerakan. "Kenapa kami tidak menggunakan almamater? Karena kami tidak ingin mengotak-ngotakkan bahwasanya ini mahasiswa, ini masyarakat sipil jadi ada pembeda. Kami bergerak dengan satu, sama, dan membawa tuntutan yang sama jadi tidak ada pembeda," ujarnya saat diwawancarai wartawan di lokasi aksi.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, meski tampil tanpa identitas kampus, para koordinator lapangan mengaku tidak mengkhawatirkan adanya potensi penyusup yang dapat memprovokasi keadaan. Annur menegaskan bahwa kelompoknya telah menyiapkan skema mitigasi risiko yang matang untuk mengamankan jalannya demonstrasi.
"Kami sudah sepakat bahwasanya ketika ada yang provokasi itu pasti bukan dari bagian kami dan kami akan menangkap langsung orang tersebut yang melakukan provokasi. Makanya itu adalah bentuk mitigasi risiko dari kami," kata Annur menambahkan.
Selain berorasi dan membentangkan berbagai poster kritik, jalannya aksi juga diwarnai oleh pertunjukan teatrikal yang cukup teatrikal. Dari pantauan redaksi, tampak seorang peserta aksi mengikat tangannya sendiri dan menutup matanya menggunakan kain hitam sebagai simbol protes atas tindakan aparat penegak hukum yang dinilai represif terhadap pejuang HAM serta aktivis demokrasi di Indonesia.