Ketegangan militer di Timur Tengah kembali memuncak setelah pasukan Amerika Serikat (AS) meluncurkan gelombang serangan baru terhadap Iran untuk hari kesembilan berturut-turut pada Senin (20/7/2026). Langkah ini diambil seiring meningkatnya kekhawatiran internasional terhadap keamanan pelayaran komersial di jalur vital Selat Hormuz.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Berdasarkan pernyataan resmi Komando Pusat AS (CENTCOM), serangan udara dan laut tersebut ditujukan untuk mengikis serta melemahkan kemampuan militer Iran dalam menyerang kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Dari pantauan redaksi, aset-aset tempur CENTCOM menargetkan berbagai objek strategis militer. Target tersebut meliputi pusat komando militer Iran, sistem pertahanan udara, situs pengawasan pantai, kemampuan maritim, fasilitas peluncuran rudal dan drone, hingga jaringan komunikasi vital.
Eskalasi konflik ini berdampak langsung pada lalu lintas maritim. Pihak Iran mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker minyak dilaporkan telah meledak dan tidak dapat bergerak akibat insiden di kawasan perairan tersebut.
Menurut laporan Al Arabiya, rangkaian serangan ini merupakan bagian dari siklus kekerasan yang meningkat setelah kesepakatan gencatan senjata sementara yang disepakati sebulan lalu mengalami kegagalan.
Berdasarkan pemberitaan kantor berita Tasnim, rudal-rudal AS menghantam sejumlah kota di Iran pada Senin pagi. Redaksi mencatat ledakan terdengar di kawasan Tabriz, Chabahar, Konarak, Bandar Mahshahr, hingga Bandar Imam Khomeini.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menegaskan posisi Washington terkait ketegangan ini. "Selat Hormuz adalah jalur air internasional, dan mereka terus meluncurkan serangan terhadap kapal-kapal di jalur air internasional itu," ujar Rubio pada Senin.
Rubio menambahkan bahwa AS akan terus mengambil tindakan tegas selama Iran mencoba menguasai jalur internasional tersebut, meski pihak Washington mengklaim tetap terbuka pada solusi diplomatik.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan memperluas target ke pembangkit listrik dan infrastruktur jembatan Iran. Langkah keras ini merupakan bagian dari upaya blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran untuk menghentikan pengiriman minyak mentah Teheran.