Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah semakin membara setelah militer Amerika Serikat (AS) kembali melancarkan gelombang serangan udara terhadap sasaran di Iran untuk malam kesembilan berturut-turut. Berdasarkan pengamatan tim redaksi, operasi militer ini berfokus pada upaya melumpuhkan kekuatan Iran yang dinilai mengancam jalur pelayaran internasional.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa penyerangan tersebut beruntun dilakukan demi melemahkan kapabilitas militer Iran di wilayah Selat Hormuz. Melalui pernyataan resminya di media sosial X, pihak CENTCOM menegaskan, "Serangan-serangan tersebut akan terus melemahkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk menyerang kapal-kapal komersial dan pelaut sipil yang melintasi Selat Hormuz."
Menanggapi gempuran tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) melancarkan aksi balasan yang menargetkan posisi strategis lawan. Dari pantauan redaksi, IRGC mengklaim telah mengarahkan serangan mendadak menggunakan pesawat nirawak (drone) ke pusat komando operasi khusus AS di wilayah Al-Tanf, Suriah, serta sejumlah aset militer AS di kawasan Teluk.
Menurut laporan media pemerintah Iran, IRNA, aksi balasan tersebut dilancarkan sebagai bentuk pembalasan atas tewasnya para prajurit Iran di Iranshahr. Selain itu, pihak Iran membeberkan bahwa AS sempat menargetkan area fasilitas pembangkit listrik tenaga nuklir yang tengah dibangun. Seorang komandan senior Iran memperingatkan bahwa "setiap agresi atau tindakan barbar akan dibalas dengan respons yang tegas dan menghancurkan dari angkatan bersenjata negara itu."
Konflik yang terus memanas ini turut memakan korban jiwa dari pihak militer Amerika Serikat. CENTCOM melaporkan seorang prajurit AS tewas di Irak saat melakukan peledakan terkendali terhadap amunisi dari drone Iran yang jatuh. Insiden tersebut melengkapi rentetan korban sebelumnya setelah dua tentara AS tewas dan satu orang dilaporkan hilang dalam gempuran di Yordania.
Berdasarkan data yang dihimpun, penambahan korban ini mencatatkan total 17 anggota militer AS yang tewas sejak eskalasi perang terbuka melibatkan AS, Israel, dan Iran meluas sejak akhir Februari lalu. Situasi keamanan di sepanjang Selat Hormuz hingga kini masih berada dalam status siaga tinggi.