Risiko cedera otak traumatis akibat penggunaan otoped listrik atau e-scooter kini menjadi sorotan utama lembaga kesehatan internasional setelah sebuah studi trauma di Inggris mengungkap fakta mengejutkan.
Berdasarkan laporan studi tersebut, pengendara e-scooter mengalami risiko cedera kepala serius sekitar 3,5 kali lipat lebih tinggi daripada pengendara sepeda motor saat mengalami kecelakaan di jalan raya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKepala Eksekutif Headway NZ, Stacey Mowbray menegaskan e-scooter bukan mainan anak-anak melainkan kendaraan bermotor bertenaga yang membutuhkan regulasi keselamatan lebih ketat.
"Ini bukan tentang melarang e-scooter karena mereka adalah bentuk transportasi sah dan nyaman, tetapi kendaraan bertenaga ini mampu menyebabkan cedera serius," ujar Stacey Mowbray.
Data klaim kecelakaan menunjukkan lonjakan signifikan sebesar 55 persen antara tahun 2022 hingga 2025, dengan kelompok usia 10 sampai 14 tahun mencatatkan kenaikan hampir tiga kali lipat.
Menurut analisis Headway NZ, cedera otak pada masa kanak-kanak dan remaja berdampak buruk pada proses belajar, partisipasi sekolah, serta kualitas kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, organisasi amal tersebut mendesak penerapan aturan wajib helm bagi seluruh pengguna e-scooter guna menekan angka keparahan cedera kepala di masa mendatang.