Wacana penggantian becak motor berbahan bakar bensin menjadi becak listrik di kawasan Malioboro mendapat tanggapan positif dari para wisatawan. Berdasarkan pantauan redaksi di lokasi, sebagian besar pengunjung menilai inovasi moda transportasi ramah lingkungan tersebut dapat menciptakan suasana wisata yang jauh lebih nyaman sekaligus mendukung upaya menjaga kualitas udara di kawasan ikonik Yogyakarta.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Rencana penerapan becak listrik digagas sebagai salah satu langkah taktis pemerintah untuk mengurangi polusi udara dan kebisingan di jantung Kota Yogyakarta. Dari pengamatan tim redaksi pada Jumat, 17 Juli 2026, sejumlah wisatawan yang tengah berkunjung mengaku sangat mendukung wacana tersebut karena dinilai mampu memberikan pengalaman berwisata yang lebih menyenangkan tanpa mengurangi fungsi transportasi tradisional di kawasan tersebut.
Menurut hasil wawancara terhadap empat wisatawan di lapangan, mayoritas dari mereka memberikan respons yang sangat baik. Tiga di antaranya, yakni Irin, Sari, dan Anisa, menyatakan sama sekali tidak keberatan apabila becak listrik mulai dioperasikan secara resmi di Malioboro. Menurut mereka, perubahan tersebut justru menjadi nilai tambah yang estetis bagi kawasan wisata yang setiap hari selalu dipadati pengunjung.
Irin mengatakan bahwa kehadiran becak listrik akan membuat suasana Malioboro terasa lebih syahdu dan nyaman karena tidak menimbulkan suara bising maupun asap kendaraan. "Kalau ada becak listrik bagus. Jadi lebih nyaman, tidak bising, dan tidak ada asap. Pas banget buat keliling Malioboro sambil foto-foto," ujarnya saat ditemui tim redaksi.
Pendapat serupa juga disampaikan oleh Sari dan Anisa. Berdasarkan penuturan Sari, becak listrik dapat membantu menjaga kebersihan udara sehingga wisatawan bisa menikmati keindahan Malioboro dengan lebih sehat. Sementara itu, Anisa beranggapan transportasi bertenaga setrum tersebut akan sangat memudahkan wisatawan yang membawa anak-anak maupun orang lanjut usia.
"Saya setuju kalau ada. Udara di Malioboro pasti jadi lebih bersih. Naiknya juga pasti lebih santai karena tidak berisik," kata Sari menjelaskan.
Anisa kemudian menambahkan, "Kalau ada, itu sangat membantu. Buat yang capek jalan bisa naik. Suaranya pelan, jadi ngobrol juga enak," ucapnya sembari menikmati suasana sore di Yogyakarta.
Meski memberikan dukungan penuh, salah seorang wisatawan tetap berharap agar pemerintah daerah memperhatikan aspek pelayanan secara mendalam apabila kebijakan becak listrik benar-benar diterapkan. Menurutnya, tarif perjalanan harus dikontrol agar tetap terjangkau oleh kantong wisatawan dan rute operasionalnya wajib dibuat jelas agar tidak membingungkan pengguna.
"Saya setuju, asal tarifnya wajar. Jangan sampai kemahalan. Terus rutenya juga harus jelas," tutur Anisa menegaskan.
Beragam tanggapan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat dan wisatawan sangat terbuka terhadap pengembangan transportasi ramah lingkungan di kawasan Malioboro. Selain menghadirkan moda transportasi yang lebih modern, pemerintah DIY juga diharapkan dapat segera menyiapkan regulasi yang jelas, mulai dari penentuan tarif, rute, hingga sosialisasi kepada para pengemudi becak agar program becak listrik dapat berjalan secara optimal.