Biaya operasional untuk teknologi kecerdasan buatan (AI) kini menjadi salah satu pengeluaran terbesar bagi banyak perusahaan di Amerika Serikat. Untuk menyiasati pembengkakan anggaran tersebut, sejumlah startup asal Silicon Valley mulai mengambil langkah ekstrem dengan beralih ke model AI buatan China yang jauh lebih murah.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Salah satu contohnya adalah Lindy.ai, sebuah startup yang berbasis di San Francisco. Perusahaan yang memproduksi asisten digital untuk mengelola email dan kalender ini pada awalnya sangat bergantung pada model AI papan atas besutan Anthropic. Namun, pengeluaran untuk AI tersebut justru membengkak hingga melewati anggaran gaji karyawan dan sewa kantor.
Flo Crivello selaku pendiri Lindy.ai mengungkapkan bahwa keputusan untuk memindahkan 100 persen traffic perusahaannya ke model AI asal China, DeepSeek-V4, didasari oleh alasan bisnis yang realistis. "Model ini 10 kali lipat lebih murah dan berhasil menghemat pengeluaran kami hingga jutaan dolar," kata Flo Crivello.
Meskipun model AI asal Amerika Serikat seperti Anthropic, OpenAI, dan Google dinilai masih memimpin pasar dengan keunggulan teknologi sekitar enam hingga 12 bulan di depan, efisiensi biaya menjadi daya tarik utama dari model AI buatan China. Masalah tingginya biaya AI ini bahkan juga dirasakan oleh perusahaan raksasa seperti Uber dan Airbnb yang mulai menyesuaikan strategi anggaran mereka.
Banyak perusahaan cenderung menyembunyikan penggunaan model AI asal China karena sensitivitas politik antara kedua negara. Kendati demikian, popularitas model AI China terus melonjak di platform penyedia model seperti Hugging Face dan GitHub karena dinilai tetap mampu menyelesaikan pekerjaan repetitif dengan biaya per token yang jauh lebih efisien.