Jang Song-thaek lahir pada Januari atau Februari 1946 di Chongjin, Korea Utara, dan menjadi salah satu figur paling berkuasa di negara tersebut selama beberapa dekade. Ia menikah dengan Kim Kyong-hui, yang merupakan adik kandung dari pemimpin Korea Utara saat itu, Kim Jong Il. Hubungan kekerabatan ini menempatkannya pada posisi strategis dalam struktur kekeluargaan penguasa tertinggi Korea Utara.
Perjalanan karier politik Jang diwarnai dengan berbagai dinamika, mulai dari kenaikan pangkat yang pesat hingga beberapa kali mengalami penurunan jabatan atau purifikasi politik. Pada masa-masa akhir kekuasaan Kim Jong Il dan masa transisi kepemimpinan ke Kim Jong Un, ia dipercaya menduduki posisi kunci sebagai wakil ketua Komisi Pertahanan Nasional. Peran ini menjadikannya tokoh nomor dua yang sangat ditakuti dan dihormati dalam lingkaran kekuasaan Pyongyang.
Meskipun sempat dianggap sebagai figur pendukung utama dan penasihat tepercaya bagi Kim Jong Un di awal masa jabatannya, hubungan kekuasaan tersebut mengalami keretakan yang serius. Pada akhir tahun 2013, Jang secara mendadak dicopot dari seluruh jabatannya di Partai Pekerja Korea dan dituduh melakukan tindakan kontra-revolusioner. Penghapusan citranya dari media massa menandai kejatuhan politik yang sangat cepat bagi seorang pejabat senior.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKejadian tersebut mencapai puncaknya pada 13 Desember 2013, ketika media pemerintah Korea Utara mengumumkan bahwa ia telah dieksekusi mati oleh regu tembak. Peristiwa ini membawa dampak besar terhadap perombakan struktur internal rezim Korea Utara serta menarik perhatian luas dari para analis internasional. Hingga kini, kisah hidup dan kejatuhan Jang Song-thaek tetap menjadi salah satu babak paling kontroversial dalam sejarah politik modern Korea Utara.
Kehidupan Awal dan Pendidikan
Jang Song-thaek lahir di wilayah Chongjin pada masa Administrasi Sipil Soviet di Korea Utara. Ia menghabiskan masa mudanya dengan menempuh pendidikan dasar hingga lulus dari SMA Senior Kim Jong Il sebelum melanjutkan studi yang lebih tinggi ke luar negeri.
Ia kemudian dikirim ke Moskow, Uni Soviet, untuk belajar di Universitas Negeri Moskow antara tahun 1968 hingga 1972. Pengalaman akademis di luar negeri ini memperluas wawasannya sekaligus membentuk landasan bagi keterlibatannya dalam birokrasi partai sekembalinya ke tanah air.
Sekembalinya dari Moskow, ia menikah dengan Kim Kyong-hui, satu-satunya saudari kandung dari Kim Jong Il. Pernikahan ini memperkuat kedudukan sosial dan politiknya di dalam lingkaran elite penguasa Dinasti Kim.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang putri bernama Jang Kum-song yang sempat menempuh studi internasional di Paris. Namun, kehidupan keluarganya juga diwarnai tragedi pribadi ketika putrinya dilaporkan meninggal dunia akibat bunuh diri pada tahun 2006.
Karier Politik dan Kontribusi
Karier politik Jang dimulai sejak tahun 1970-an ketika ia mulai memegang berbagai posisi penting di dalam tubuh Partai Pekerja Korea, dimulai sebagai instruktur hingga memegang kendali di departemen pemuda. Perjalanannya sempat mengalami hambatan pada akhir dekade 1970-an ketika ia dipindahkan ke pabrik baja akibat dianggap terlalu berpengaruh atau memiliki gaya hidup yang terlalu mencolok.
Setelah melewati masa rehabilitasi politik, pengaruh Jang kembali meroket pada dekade 1980-an dan 1990-an dengan menduduki jabatan-jabatan strategis seperti wakil direktur Departemen Organisasi dan Bimbingan. Ia diidentifikasi oleh para pengamat luar negeri sebagai salah satu kandidat potensial penerus kekuasaan saat kesehatan Kim Jong Il mulai menurun.
Puncak kekuasaannya terjadi ketika ia diangkat menjadi wakil ketua Komisi Pertahanan Nasional serta direktur Departemen Administrasi yang mengawasi bidang keamanan internal, kepolisian, dan peradilan. Peran ini membuatnya memegang kendali de facto atas sebagian besar kebijakan strategis negara serta memimpin delegasi penting dalam kerja sama ekonomi dengan Tiongkok.
Kontribusinya dalam mengonsolidasikan kekuasaan transisi bagi Kim Jong Un pada awalnya sangat diandalkan, namun perbedaan pandangan politik dan persaingan faksi di tubuh militer akhirnya berujung pada pembersihan politiknya. Kejatuhannya mengubah lanskap kekuasaan di Korea Utara secara drastis dan mengakhiri era panjang pengaruh politiknya.