Dua menit lamanya sirene berbunyi nyaring di kawasan RT 01 dan RT 02 RW 10, Kelurahan Pondok Labu, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan. Bagi masyarakat setempat, suara tersebut bukan lagi sebuah kejutan yang menakutkan, melainkan sebuah penanda waktu yang sangat berharga untuk menyelamatkan diri dan harta benda sebelum air bah merangsek masuk ke rumah.
Berdasarkan laporan media, warga di bantaran Kali Grogol dan Kali Krukut selama bertahun-tahun harus hidup berdampingan dengan ancaman banjir kiriman yang datang tanpa aba-aba. Sebelumnya, mereka hanya mengandalkan metode konvensional seperti pukulan kentongan, pengumuman dari pengeras suara masjid, atau suara besi yang beradu dengan tiang listrik untuk saling memberi peringatan.
Metode tradisional tersebut dinilai memiliki banyak kelemahan, terutama ketika hujan deras turun di tengah malam saat warga tengah terlelap. Pengalaman pahit pada banjir besar tahun 2020, di mana air sempat mencapai ketinggian hampir dua meter dan menghanyutkan kendaraan, menjadi pemicu utama perlunya sistem peringatan dini yang lebih modern dan dapat diandalkan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip laporan media, gagasan brilian ini bermula dari inisiatif seorang pemuda berusia 23 tahun bernama Muhammad Azzuhri Ramdhani yang merupakan lulusan sarjana ekonomi manajemen Universitas Nasional sekaligus anggota Karang Taruna setempat. Ide tersebut lahir setelah ia mengikuti program pelatihan kebencanaan yang diselenggarakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah.
Sebagaimana diwartakan, alat yang dinamakan Smart Flood Warning System ini dibangun murni melalui swadaya masyarakat dan kas RT tanpa campur tangan proyek instansi besar pada awal pembentukannya. Dengan menggunakan komponen seadanya dan gotong royong bersama rekan-rekan Karang Taruna, warga berhasil mewujudkan sistem peringatan dini mandiri pertama di Jakarta ini.