Widji Thukul lahir di Surakarta pada 26 Agustus 1963 sebagai penyair dan aktivis terkemuka yang namanya abadi dalam sejarah perlawanan terhadap rezim Orde Baru. Ia dikenal luas lewat karya puisi serta syair tajam yang secara konsisten menyuarakan kritik keras terhadap kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Soeharto.
Lahir dari keluarga sederhana dengan latar belakang ekonomi pas-pasan, Thukul tumbuh besar di tengah lingkungan Kampung Jagalan, Solo. Ayahnya bekerja sebagai penarik becak, sementara sang ibu kerap berjualan ayam bumbu untuk membantu perekonomian keluarga.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSejak masa sekolah dasar, Thukul sudah menunjukkan ketertarikan mendalam pada dunia sastra dengan mulai menulis puisi. Hobinya berlanjut ke dunia teater saat duduk di bangku sekolah menengah, di mana ia bergabung dengan kelompok Teater Jagat dan sering mengamen puisi keluar masuk kampung.
Sebelum dikenal sebagai sastrawan besar, Thukul sempat melakoni berbagai pekerjaan kasar demi menyambung hidup mulai dari berjualan koran, calo karcis bioskop, hingga menjadi tukang pelitur di sebuah perusahaan mebel lokal.
Aktivisme Sosial dan Misteri Penghilangan Widji Thukul
Keterlibatan Thukul dalam gerakan sosial semakin intens ketika ia aktif berorganisasi dan memimpin berbagai aksi protes kaum buruh serta petani terhadap ketidakadilan struktural. Perjuangan tanpa kompromi tersebut membuatnya sering berurusan dengan aparat keamanan hingga mengalami kekerasan fisik dan cedera parah pada bagian mata.
Memasuki tahun 1996, situasi politik yang memanas memaksa Thukul hidup berpindah-pindah tempat untuk menghindari kejaran aparat militer. Meskipun berada dalam masa pelarian dan persembunyian yang penuh ancaman, ia tidak pernah berhenti menulis puisi pro-demokrasi.
Kontak terakhir antara Thukul dan istrinya, Siti Dyah Sujirah atau Sipon, terjadi pada Februari 1998 sebelum akhirnya ia dikabarkan menghilang tanpa jejak. Hingga saat ini, dugaan kuat mengarah pada penculikan oleh pihak militer bersama sejumlah aktivis pro-demokrasi lainnya menjelang kejatuhan Orde Baru.
Karya-karya monumental seperti Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok tetap hidup dan menjadi lagu kebangsaan dalam setiap aksi massa. Peninggalan sastra tersebut menegaskan posisi Widji Thukul sebagai simbol abadi perlawanan rakyat tertindas di Indonesia.