Presiden Soeharto resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada 21 Mei 1998 setelah runtuhnya dukungan politik atas kepemimpinannya yang telah berlangsung selama kurang lebih 32 tahun. Keputusan besar tersebut sekaligus menandai berakhirnya era Orde Baru dan membuka jalan bagi era reformasi di bawah kepemimpinan Wakil Presiden B.J. Habibie yang langsung mengambil alih kursi kepresidenan.
Cengkeraman kekuasaan Soeharto mulai goyah akibat hantaman krisis ekonomi parah yang bermula dari krisis keuangan Asia 1997. Pelarian modal asing secara besar-besaran memicu penurunan drastis nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang berdampak langsung pada kelangsungan hidup dunia usaha dan pencaharian masyarakat luas.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun baru saja terpilih kembali untuk masa jabatan ketujuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat pada Maret 1998, situasi politik nasional telanjur memanas. Meningkatnya aksi demonstrasi mahasiswa, kerusuhan sosial, serta tekanan internasional secara signifikan merusak fondasi dukungan politik dan militer yang selama ini menopang pemerintahannya.
Sejarah panjang rezim ini berawal dari konsolidasi kekuasaan pada tahun 1967 menyusul peristiwa pergolakan politik nasional. Selama masa kepemimpinannya, pemerintah mengadopsi sistem pembatasan kebebasan sipil melalui mekanisasi politik yang melibatkan Golkar dan militer sebagai pilar utama penopang kekuasaan.
Krisis Ekonomi dan Tekanan Politik Menjatuhkan Orde Baru
Puncak krisis ekonomi pada tahun 1997 menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling terpukul di kawasan regional. Nilai tukar rupiah anjlok secara drastis dari level Rp2.600 per dolar AS hingga menyentuh angka di atas Rp14.800 per dolar AS pada awal tahun 1998.
Banyak perusahaan nasional menanggung utang luar negeri dalam denominasi dolar AS mengalami kesulitan keuangan hingga kebangkrutan massal. Upaya Bank Indonesia mempertahankan stabilitas nilai tukar melalui intervensi pasar justru menguras cadangan devisa negara tanpa hasil signifikan.
Di tengah tekanan domestik dan desakan internasional dari Dana Moneter Internasional atau IMF, pemerintah terpaksa menyetujui sejumlah paket reformasi struktural. Namun, konflik kepentingan internal serta keraguan publik memperparah krisis kepercayaan terhadap stabilitas finansial nasional.
Gelombang protes dari berbagai elemen masyarakat, mahasiswa, hingga tokoh politik akhirnya tidak terbendung lagi hingga memaksa Soeharto melepas tampuk kepemimpinan tertinggi negara setelah puluhan tahun memegang kendali penuh atas pemerintahan.