Bukan daging saja, gula alami dari buah dan madu terbukti memegang peranan krusial dalam memicu pertumbuhan otak manusia purba. Berdasarkan pengamatan Kabayan News, teori evolusi yang selama ini mendominasi selalu berpusat pada konsumsi daging dan lemak untuk memperbesar ukuran otak. Namun, analisis terbaru yang dipimpin oleh Jennie Brand-Miller dari University of Sydney bersama para periset dari University of Glasgow dan diterbitkan dalam jurnal Science, mematahkan anggapan tunggal tersebut.
Sebagaimana dilaporkan dalam studi tersebut, otak manusia menggunakan glukosa sebagai bahan bakar utamanya. Meskipun bobot organ vital ini hanya sekitar dua persen dari total berat badan orang dewasa, bagian ini membakar sekitar 20 persen energi tubuh saat beristirahat. Pada anak usia lima tahun, kebutuhan energi tersebut bahkan melonjak hingga mencapai 66 persen.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip laporan dari penelitian itu, sebelum nenek moyang manusia menguasai teknik memasak dan api, buah liar serta madu menjadi sumber utama glukosa yang menopang perkembangan otak mereka. Berdasarkan pemodelan komputer yang merentang selama empat juta tahun, gula alami menyumbang sekitar 20 hingga 35 persen dari total energi makanan di sepanjang sejarah evolusi manusia.
Dari analisis Kabayan News, kebutuhan glukosa harian pada manusia purba sangat tinggi, terutama bagi perempuan hamil dan menyusui yang memerlukan sekitar 230 gram per hari. Organ hati manusia tidak mampu memproduksi seluruh kebutuhan glukosa tersebut hanya dari protein saja tanpa mengalami kekurangan yang signifikan. Oleh karena itu, pasokan dari makanan manis seperti buah-buahan liar menjadi sebuah keharusan biologis.
Selain data nutrisi, para peneliti menemukan jejak evolusi tersebut dalam struktur tubuh manusia modern hingga saat ini. Manusia memiliki reseptor rasa manis tidak hanya pada lidah, melainkan juga di sepanjang usus halus serta pusat nafsu makan di dalam otak. Berdasarkan catatan fosil gigi dari jutaan tahun silam, tanda-tanda kerusakan gigi purba turut memperkuat bukti bahwa makanan bergula mendominasi menu harian leluhur kita.
Meskipun demikian, studi ini sama sekali tidak mengecilkan peran penting daging dalam sejarah evolusi manusia. Asupan protein padat serta sumsum tulang tetap membantu nenek moyang kita memangkas ukuran saluran pencernaan untuk mengalihkan energi ke pertumbuhan otak. Dengan demikian, kombinasi asupan daging dan gula alami dari alam bekerja secara berdampingan dalam membentuk kecerdasan manusia modern.