Terapi eksperimental Alzheimer terbukti mampu mengembalikan waktu tidur hingga dua jam penuh pada pengujian hewan tikus. Penemuan ini memberikan sudut pandang baru dalam memahami hubungan kompleks antara penurunan fungsi kognitif dan masalah istirahat malam.
Berdasarkan analisis Kabayan News, riset yang dipimpin oleh para ahli dari University of Kentucky ini menyoroti peran sel imun di dalam otak yang disebut mikroglia. Alih-alih berfokus sepenuhnya pada tumpukan protein amiloid-beta, para ilmuwan menemukan bahwa reaksi peradangan dari mikroglia justru menjadi faktor utama penyebab otak tetap terjaga.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeFisiolog University of Kentucky, Shannon Macauley menjelaskan bahwa sel imun tersebut seolah memicu peradangan yang membuat otak berada dalam status siaga penuh. "Pada dasarnya kami menunjukkan bahwa bukan plakat itu sendiri atau neuron disfungsional yang menyebabkan hilangnya tidur, melainkan mikroglia," ujarnya.
Melalui eksperimen pemberian obat penghambat mikroglia, tim peneliti mendapati durasi istirahat hewan uji meningkat secara signifikan. Langkah medis ini berhasil memulihkan waktu tidur restoratif yang sangat krusial bagi proses pembersihan racun harian di dalam organ vital tersebut.
Kendati demikian, para peneliti menegaskan bahwa metode ini baru diuji pada hewan tikus dan memerlukan pengembangan lebih lanjut demi keamanan manusia. Pengamatan lanjutan juga membuka peluang pemanfaatan alat pemantau aktivitas otak portabel guna mendeteksi gejala dini penurunan daya ingat pada masa depan.