Kurang tidur pada remaja terbukti memicu perubahan spesifik serta bertahan lama pada cara berbagai area di dalam jaringan otak saling berkomunikasi satu sama lain.
Berdasarkan laporan Developmental Cognitive Neuroscience, para ilmuwan berhasil menemukan bukti kuat bahwa kekurangan waktu istirahat secara konsisten mampu mengubah organisasi jaringan internal otak manusia.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenurut pengamatan Kabayan News, fenomena kurang tidur di kalangan anak muda saat ini kian mengkhawatirkan karena kerap memicu penurunan performa akademik serta tantangan emosional yang kompleks.
Tim peneliti yang dipimpin oleh M. Fiona Molloy dan Chandra Sripada dari University of Michigan merancang studi khusus guna meneliti hubungan antara kebiasaan tidur dan perkembangan struktur otak remaja.
Dalam analisis data terhadap ribuan anak berusia 11 hingga 12 tahun, para peneliti mengombinasikan laporan orang tua, laporan mandiri anak, serta data objektif dari perangkat pelacak aktivitas fisik.
Berdasarkan analisis statistik yang mendalam, kurang tidur ternyata berkaitan erat dengan peningkatan aktivitas komunikasi di dalam somatomotor network yang mengatur sensorik dan motorik.
Dari analisis Kabayan News, eksperimen tambahan pada orang dewasa yang mengalami kurang tidur turut memperkuat temuan bahwa kelelahan fisik secara langsung memicu konfigurasi ulang pada jaringan otak.