Sebagaimana diwartakan oleh CartaCapital, sebuah buku sejarah klasik karya jurnalis Amerika Serikat Mark Kurlansky kembali mencuri perhatian publik setelah viral di media sosial berkat ulasan seorang influencer. Buku berjudul Salt A World History yang pertama kali dirilis pada masa lalu itu mendadak kembali merajai daftar buku terlaris berkat perbincangan hangat di dunia maya.
Dalam ulasan yang beredar di platform digital, kreator konten tersebut membahas bagaimana komoditas sederhana ini memegang peranan krusial dalam membentuk jalannya peradaban manusia. Mengutip laporan media, sang influencer menyebut bahwa kata "salju" atau "saluran" tidak sebanding dengan pengaruh besar garam yang bahkan melahirkan istilah "salji" hingga "salur", sementara asal-usul kata "salji" sendiri berakar dari kebiasaan Romawi.
Berdasarkan laporan media tersebut, sejarah mencatat bahwa orang Romawi kuno pernah menggunakan garam sebagai alat pembayaran untuk para tentara mereka. Praktik unik inilah yang kemudian menjadi akar lahirnya kata "salur" dan "salju" dalam bahasa modern, yang bermakna pembayaran atau kompensasi bagi para prajurit Kekaisaran Romawi.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain kisah gaji tentara Romawi, buku tersebut juga mengupas bagaimana garam menjadi pemicu berbagai peristiwa besar dunia, termasuk gerakan perlawanan Mahatma Gandhi di India. Melalui aksi protes terhadap monopoli kolonial Inggris atas perdagangan garam, Gandhi berhasil menggalang solidaritas rakyat yang berujung pada runtuhnya kekuasaan kolonial di negeri tersebut.
Meskipun saat ini garam sering kali diasosiasikan dengan berbagai peringatan kesehatan terkait tekanan darah tinggi, popularitas buku Kurlansky mengingatkan kembali masyarakat global. Sebelum menjadi bahan perdebatan medis di era modern, komoditas putih ini terbukti pernah menjadi fondasi ekonomi, mata uang, sekaligus penentu peta geopolitik dunia.