Krisis lingkungan di wilayah pesisir kembali mencuat setelah Yayasan Genesis Bengkulu merilis data mengenai ancaman abrasi yang kian mengkhawatirkan. Berdasarkan Dokumen Kajian Darurat Abrasi Pesisir Provinsi Bengkulu, fenomena alam ini telah melahap ratusan hektare daratan dan mengancam keselamatan ribuan bangunan warga.
Sebagaimana diwartakan, abrasi tercatat telah menghilangkan 712,81 hektare daratan pesisir yang tersebar di 109 desa pada tujuh kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu. Selain itu, sepanjang 190,24 kilometer garis pantai atau sekitar 32,2 persen dari total garis pantai di wilayah tersebut kini mengalami abrasi aktif.
Berdasarkan analisis lebih lanjut, kajian itu menemukan sebanyak 3.594 unit bangunan berada di dalam zona sempadan pantai. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.885 unit bangunan di 32 desa berada dalam kondisi sangat terancam karena berdiri di kawasan yang mengalami abrasi aktif, bahkan puluhan di antaranya berjarak kurang dari 20 meter dari garis pantai.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePerubahan signifikan pada ekosistem pesisir turut memperparah situasi dalam beberapa dekade terakhir. Menurut laporan lembaga tersebut, formasi hutan di zona sempadan pantai mengalami penyusutan drastis, sementara alih fungsi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit meningkat tajam seiring berjalannya waktu.
Menghadapi situasi darurat ini, pihak Genesis Bengkulu mendesak pemerintah pusat maupun daerah untuk segera mengambil langkah mitigasi konkret. Langkah tersebut mencakup pembentukan tim terpadu, alokasi anggaran khusus, percepatan pembangunan infrastruktur pelindung pantai, hingga moratorium izin penambangan material di kawasan rawan abrasi.