Budidaya ikan atau akuakultur telah menjadi tulang punggung penyedia protein hewani dunia dengan menyumbang lebih dari 50% total produksi makanan laut global saat ini. Fenomena ini muncul akibat meningkatnya permintaan ikan sebagai sumber protein diet, sementara stok ikan di perairan liar mengalami penurunan drastis akibat aktivitas penangkapan yang berlebihan.
China tercatat sebagai produsen ikan budidaya terbesar dengan kontribusi mencapai 62% terhadap total produksi dunia. Pertumbuhan sektor akuakultur ini tergolong sangat pesat, dengan rata-rata kenaikan produksi mencapai 5,3 persen setiap tahunnya pada periode 2000 hingga 2018, yakni melonjak dari 32,4 juta ton menjadi 82,1 juta ton.
Keunggulan utama budidaya ikan terletak pada kemampuannya menyediakan pasokan pangan yang terkontrol dengan akses pemberian pakan dan perlindungan dari predator alami secara optimal. "Budidaya ikan memungkinkan pembentukan koloni ikan buatan yang terpisah dari ekosistem liar, sehingga tidak mengganggu keberlangsungan populasi ikan alami," ungkap pengamat perikanan dalam laporan riset terkait.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain menyediakan komoditas pangan, industri ini juga melayani kebutuhan perdagangan ikan hias yang mayoritas berasal dari kolam budidaya di Asia serta Amerika Selatan. Keterlibatan tenaga kerja wanita dalam sektor ini pun cukup signifikan, yakni mencakup 24% dari jumlah peternak ikan dan 62% di sektor pascapanen pada tahun 2022.
Teknologi Intensif dan Efisiensi Pakan
Sistem akuakultur intensif kini semakin diandalkan untuk meningkatkan produktivitas per unit luas dengan memastikan kecukupan oksigen dan kualitas air yang terukur. Salah satu inovasi yang berkembang adalah penggunaan Recirculating Aquaculture Systems (RAS) yang mengontrol seluruh parameter produksi, sehingga penggunaan air menjadi lebih efisien per unit hasil.
Efisiensi pakan pada budidaya ikan tergolong sangat unggul dibandingkan peternakan darat, dengan nilai rasio konversi pakan (FCR) ikan salmon yang mencapai 1,1 kilogram pakan untuk 1 kilogram ikan. Angka ini jauh lebih efisien jika disandingkan dengan peternakan ayam yang memerlukan rata-rata 2,5 kilogram pakan untuk setiap kilogram daging yang dihasilkan.
Inovasi teknis seperti penggunaan paduan tembaga untuk jaring keramba juga mulai diadopsi guna menekan biaya perawatan. "Paduan tembaga bersifat antimikroba yang mampu menghancurkan bakteri, virus, jamur, serta alga, sehingga memberikan lingkungan yang jauh lebih bersih bagi ikan untuk tumbuh optimal," catat laporan teknis industri akuakultur tersebut.
Upaya riset pun terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas nutrisi pada ikan budidaya, termasuk penggunaan bahan pangan alternatif seperti Schizochytrium untuk menggantikan minyak ikan. Hasil uji coba pada juvenil ikan nila menunjukkan bahwa metode ini mampu meningkatkan bobot tubuh ikan serta kandungan omega-3 yang lebih sehat pada daging ikan.