Proses hukum kasus ledakan pabrik di Houston yang menewaskan tiga orang mendadak mencuri perhatian publik setelah terbongkarnya penggunaan kecerdasan buatan secara serampangan oleh saksi ahli.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, saksi ahli bernama Josh Autenrieth dari Knighthawk Engineering kedapatan meminta ChatGPT untuk membuktikan bahwa perusahaan 3M sama sekali tidak bersalah atas insiden tersebut.
Perusahaan raksasa 3M menggelontorkan dana hingga lebih dari 90 ribu dolar Amerika Serikat untuk menyewa jasa Autenrieth guna memberikan penilaian independen terkait ledakan maut yang bersumber dari kebocoran selang las.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeAlih-alih melakukan analisis mendalam secara mandiri, sang ahli justru memasukkan dokumen, foto, hingga daftar riwayat hidup ke dalam sistem bot dan meminta platform tersebut menyusun opini hukum sesuai pesanan.
Skandal memalukan ini terungkap berkat kejelian pengacara pihak penggugat, Will Moye, yang menemukan kejanggalan berupa overlay kutipan digital dalam dokumen penemuan bukti atau discovery.
Pengadilan sempat menghentikan proses deposisi selama tiga jam akibat penemuan log perintah atau prompt ChatGPT sepanjang 350 halaman yang berujung pada pengakuan telak dari sang saksi ahli.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, insiden ini menjadi preseden buruk bagi pemanfaatan teknologi modern dalam dunia peradilan hukum profesional global saat ini.
Autenrieth mengakui di hadapan persidangan bahwa sekitar 85 hingga 90 persen isi laporan pembelaan tersebut ditulis sepenuhnya oleh sistem kecerdasan buatan tanpa verifikasi ketat.
Meskipun teknologi kecerdasan buatan kian masif diadopsi dalam berbagai lini profesi, ketergantungan total pada bot tanpa objektivitas sains justru menghancurkan kredibilitas hukum saksi ahli di muka persidangan.