Berdasarkan laporan media La Nacion, gagasan mengenai identitas feminin dalam konsep ketuhanan kini menjadi bahan kajian mendalam di berbagai universitas terkemuka dunia seperti Harvard, Princeton, Oxford, hingga Cambridge. Para teolog dan sejarawan mempertanyakan alasan hilangnya jejak dewi-dewi kuno serta figur keibuan dalam tradisi monoteistis patriarki yang terbentuk sejak ribuan tahun lalu.
Mengutip laporan tersebut, sejarawan Inggris Anne Baring menjelaskan bahwa evolusi kesadaran manusia sempat mengalami pergeseran dari fase lunar yang memuja figur Gran Madre atau Ibu Agung menuju fase solar yang lebih mengedepankan aspek maskulin. Perubahan struktur sosial dan keagamaan ini dinilai turut menempatkan peran perempuan dalam posisi yang terpinggirkan di sepanjang sejarah peradaban.
Tidak hanya itu, peninjauan ulang juga terjadi pada figur-figur penting dalam sejarah keagamaan seperti Maria Magdalena yang kerap disalahartikan dalam tradisi masa lalu. Berbagai penemuan manuskrip kuno di Mesir kini memberikan sudut pandang baru mengenai pentingnya pengetahuan spiritual bernuansa feminin atau gnosis dalam tradisi awal kekristenan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMelalui berbagai penelitian dari para ahli lintas tradisi spiritual, upaya untuk mengintegrasikan kembali dimensi maskulin dan feminin dalam pemahaman ketuhanan diharapkan mampu membawa keseimbangan baru. Dialog terbuka ini sekaligus membuka ruang pemulihan bagi kesadaran kolektif yang menghargai kesetaraan di ranah spiritual.