Berdasarkan laporan dari media Channel News Asia, kepolisian Singapura akhirnya mengambil tindakan tegas dengan memblokir sejumlah situs web yang mencatut nama institusi penting di negara tersebut. Salah satu situs yang menjadi sasaran pemblokiran adalah Global Asia Think Tank setelah terbukti menyebarkan klaim palsu terkait afiliasi resmi.
Mengutip keterangan dari Singapore Police Force, keputusan pemblokiran ini dikeluarkan melalui instruksi akses di bawah regulasi Online Criminal Harms Act. Langkah tersebut diambil menyusul laporan resmi yang dilayangkan oleh Kementerian Luar Negeri atau Ministry of Foreign Affairs ke pihak berwajib.
Sebelumnya, situs Global Asia Think Tank secara sepihak mengeklaim mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Luar Negeri Singapura. Tidak hanya itu, mereka juga mencatut nama lembaga riset ternama seperti Lee Kuan Yew School of Public Policy serta S Rajaratnam School of International Studies untuk membangun kredibilitas palsu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenanggapi pencatutan tersebut, pihak Kementerian Luar Negeri menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah memberikan dukungan apa pun kepada entitas tersebut dan menyebut klaim itu sebagai misinformasi. Senada dengan kementerian, perwakilan dari lembaga pendidikan terkait juga menyatakan tidak memiliki hubungan apa pun dengan situs tiruan tersebut.
Selain Global Asia Think Tank, dua entitas lain bernama Great Vision dan Afforesight juga turut disorot karena menggunakan modus serupa sebagai lembaga konsultasi fiktif. Bahkan, Great Vision sempat berupaya merekrut mantan diplomat Singapura, sementara alamat fisik Afforesight justru mengarah ke fasilitas riset milik perusahaan farmasi.
Anggota Parlemen Singapura, Yip Hon Weng, turut memberikan perhatian serius terhadap kasus ini dengan melayangkan pertanyaan resmi di parlemen. Menurutnya, fenomena kemunculan lembaga think-tank palsu ini mengindikasikan adanya pergeseran pola dalam dunia pengumpulan intelijen modern.
Lebih lanjut, Yip Hon Weng menilai bahwa ancaman dari organisasi sintetis semacam ini bukan sekadar pencurian data rahasia, melainkan upaya manipulasi opini publik. "Perekrutan pakar kredibel dan publikasi analisis buatan dapat mengaburkan batas antara spionase, pengaruh asing, dan praktik pencucian pengetahuan," demikian peringatan yang disampaikan melalui akun media sosial pribadinya.