Fenomena gerhana matahari total pada 12 Agustus 2026 di Spanyol dan berbagai wilayah Eropa dimanfaatkan para ilmuwan dunia untuk menggali informasi mendalam terkait misteri tata surya kita. Berdasarkan analisis Kabayan News, momentum langka saat bulan menutupi piringan matahari ini memberikan akses visual langsung guna mengamati lapisan terluar matahari yang bernama korona.
Berbagai lembaga riset internasional langsung menerjunkan tim terbaik mereka untuk melakukan pengamatan intensif dari berbagai sudut pandang ilmiah. NASA mengerahkan pesawat riset khusus WB-57 untuk mengejar bayangan gerhana di udara sambil membawa kamera beresolusi tinggi guna merekam korona dalam beragam panjang gelombang cahaya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Pesawat terbang mengejar titik gerhana maksimum saat bayangan bulan menyusul mereka," demikian penjelasan dari laporan media internasional mengenai misi penerbangan tersebut. Kamera canggih di badan pesawat itu mampu menangkap setidaknya dua puluh gambar per detik untuk meneliti pembentukan prominensa serta proses pemanasan korona matahari.
Selain misi udara, aktivitas riset masif juga dilakukan di permukaan bumi melalui peluncuran puluhan balon udara di Islandia dan Spanyol guna mengukur dampak gerhana terhadap lapisan batas atmosfer bumi. Ilmuwan dari European Space Agency bersama para peneliti di Javalambre Astrophysical Observatory turut memanfaatkan momen tersebut untuk menguji prototipe spektrometer baru.
"Perspektif unik di bumi selama gerhana matahari total memungkinkan ilmuwan meneliti korona matahari dengan cara tidak dapat dilakukan dari bagian tata surya lain," ujar Kelly Korreck selaku pengelola program gerhana di markas besar NASA dikutip dari publikasi resmi.