Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Lamongan mulai menyiapkan langkah besar untuk meningkatkan daya saing hasil perikanan daerah. Melalui strategi hilirisasi, hasil tangkapan laut yang selama ini didominasi penjualan bentuk segar akan diolah menjadi produk bernilai tambah agar mampu menembus pasar ekspor pada 2026.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe →Langkah ini diambil untuk memperkuat ekonomi maritim sekaligus melepaskan ketergantungan nelayan dari fluktuasi harga ikan di tingkat lokal. Selama bertahun-tahun, keuntungan terbesar justru lebih banyak dinikmati oleh rantai distribusi ketimbang nelayan kecil yang menjual hasil tangkapan dalam bentuk bahan baku.
Ketua HNSI Kabupaten Lamongan, Ma'mun Murod, menegaskan bahwa potensi perikanan daerah harus dioptimalkan lewat pengolahan pascatangkap agar nilai ekonominya meningkat. "Kami tidak ingin hasil tangkapan nelayan Lamongan terus-menerus dijual mentah. Dengan hilirisasi, produk olahan bernilai tambah tinggi bisa langsung bersaing di pasar ekspor dan mengangkat pendapatan nelayan kecil," ujar Ma'mun Murod di Lamongan, Rabu (22/7/2026).
Guna merealisasikan target tersebut, HNSI Lamongan berkoordinasi dengan Dinas Perikanan setempat untuk memfasilitasi pendirian unit pengolahan ikan berskala kelompok nelayan. Selain itu, pelatihan teknis terkait pengolahan hasil perikanan dan teknik pengemasan standar internasional juga akan segera diselenggarakan.
Upaya pemenuhan standar ketat pasar internasional, seperti sertifikasi keamanan pangan dan sistem ketelusuran asal produk (traceability), turut menjadi fokus utama. Dengan pengolahan pascapanen yang matang, produk perikanan Lamongan diharapkan memiliki umur simpan lebih panjang dan daya saing tinggi di pasar global.