Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memasang target ambisius agar pangsa penggunaan transportasi publik di ibu kota dapat mencapai 55 persen pada tahun 2045 mendatang.
Langkah strategis tersebut dicanangkan sebagai upaya nyata untuk memangkas tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi sekaligus menekan polusi udara dari sektor transportasi.
Menurut Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, meskipun jangkauan layanan transportasi umum saat ini telah mencakup 93 persen wilayah Jakarta, tantangan terbesarnya adalah mengubah kebiasaan masyarakat agar menjadikan transportasi publik sebagai moda andalan harian.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Jangkauan layanan transportasi umum telah mencapai 93 persen di Jakarta. Tantangan berikutnya yang lebih mendasar adalah bagaimana kita menjadikan transportasi publik sebagai moda pilihan utama bagi mobilitas harian setiap orang," ungkap Pramono saat membuka acara Indonesia International Transport Summit (IITS) 2026 di Jakarta Selatan, sebagaimana diwartakan dalam laporan media.
Lebih lanjut, transformasi mobilitas ini juga diarahkan untuk mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen pada 2030 serta mencapai net zero emission pada tahun 2050.
Berdasarkan data catatan instansi terkait, sektor transportasi tercatat menyumbang hingga 52 persen emisi langsung di Jakarta, yang juga berimbas pada tingkat kemacetan dan penurunan produktivitas warga.
Guna merealisasikan target tersebut, Pemprov DKI menerapkan dua pendekatan utama, yakni strategi pull melalui perluasan jaringan Transjakarta, MRT, LRT, serta pengembangan kawasan berorientasi transit, serta strategi push berupa pembatasan kendaraan pribadi seperti penerapan ganjil-genap dan disinsentif parkir.