Mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dikabarkan merasa dihina dan mengalami kerugian imateriil setelah nama baiknya tercemar akibat tudingan ijazah palsu yang dilayangkan oleh Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa. Berdasarkan surat dakwaan jaksa yang dibacakan dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri Jakarta Timur pada Kamis lalu, tuduhan tersebut dinilai telah merendahkan martabat Jokowi secara personal.
// RELATED STORIES
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Menurut pemaparan jaksa di persidangan, akibat dari unggahan dan pernyataan terdakwa, saksi Joko Widodo merasa telah dihina sehina-hinanya dan direndahkan serendah-rendahnya. Dari pantauan redaksi, jaksa menegaskan bahwa perbuatan Dokter Tifa dikategorikan sebagai tindakan fitnah, penghinaan, serta pencemaran nama baik yang memicu pihak-pihak lain untuk ikut menyebarkan tuduhan serupa terkait ijazah S1 Fakultas Kehutanan UGM milik Jokowi.
Merespons dakwaan tersebut, kuasa hukum Dokter Tifa, Aziz Yanuar, angkat bicara dan memberikan pandangan hukum serta politiknya. Menurut Aziz Yanuar, seseorang yang memilih untuk menjadi pejabat publik seharusnya sudah menyadari dan siap menerima konsekuensi logis bahwa tidak semua lapisan masyarakat akan menyukai dirinya.
Berdasarkan argumennya dalam sebuah tayangan media pada Minggu, Aziz Yanuar menyatakan bahwa dalam iklim negara demokrasi, persepsi publik terhadap seorang pemimpin tidak bisa dipaksakan untuk selalu positif. "Sebagai seorang pejabat publik, itu adalah risiko orang suka tidak suka terhadap seseorang. Kita ini bukan di Korea Utara yang semua harus suka sama Kim Jong Un. Kita ini katanya berdemokrasi," ujar Aziz Yanuar menegaskan.
Dari pengamatan tim redaksi, untuk memperkuat argumentasinya mengenai dinamika kritik terhadap pemimpin negara, Aziz Yanuar juga sempat menyinggung kejadian tidak menyenangkan yang pernah dialami oleh Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Ia mengungkit momen masa lalu saat SBY mendapat sindiran keras dari massa demonstran yang membawa seekor kerbau bertuliskan "SiBuYa" sebagai bentuk protes publik tanpa berujung pada pemidanaan yang represif.